Nama: Bastiah
Nim: 11901121
Kelas: PAI 4D
Dalam mencapai tujuan penyelenggaraan sekolah yang efektif diperlukan pengelolaan sekolah sesuai kondisi dan situasi tempat sekolah tersebut diselenggarakan. Untuk pengelolaan sekolah, seorang kepala sekolah atau pemimpin harus memberi perhatian terhadap aspek informal, aspek simbolik, dan aspek yang tidak tampak dari kehidupan sekolah yang telah membentuk keyakinan dan tindakan tiap warga sekolah. Kepala sekolah mempunyai tugas dalam menciptakan atau membentuk dan mendukung kultur untuk menguatkan sikap efektif dalam segala hal yang dikerjakan di sekolah. Dengan menggunakan 10 indikator organisasi yang sehat, Macneil, Prater, & Busch (2010) melakukan penelitian terhadap tiga jenis sekolah yaitu, sekolah unggulan, sekolah contoh, dan sekolah kebanyakan. Penelitian tersebut memperlihatkan bahwa sekolah contoh lebih baik daripada sekolah kebanyakan, tidak ditemukan perbedaan yang signifikan antara sekolah contoh dan unggulan , tetapi perbedaan signifikan terlihat pada sekolah unggulan yang lebih baik daripada sekolah kebanyakan dalam dimensi fokus dan adaptasi sekolah. Dengan demikian, suasana atau iklim budaya sekolah yang sehat akan mempengaruhi prestasi belajar siswa di sekolah. Kepala sekolah bertanggung jawab untuk membangun budaya dalam pelaksanaan proses belajar mengajar di sekolah. Bukan hanya dengan cara mengubah struktur dan fungsi sekolah beroperasi karena harus terlebih dahulu memahami budaya sekolah bukan hanya mengelolanya saja. Hal ini penting untuk menyadari budaya yang kompleks karena memiliki cara yang sangat unik dan istimewa dari bekerja. Melihat peran kultur sekolah yang begitu signifikan dalam mempengaruhi proses pembelajaran yang dilakukan di sekolah, dibutuhkan adanya kerja sama antarsemua warga sekolah, mulai dari kepala sekolah, guru, dan semua staf. Hal ini menunjukkan bahwa upaya pembentukan kultur sekolah merupakan tanggung jawab semua warga sekolah, yang dilakukan dengan kesungguhan dan loyalitas tinggi. Kultur sekolah yang baik harus mencerminkan nilai-nilai yangbersahabat dan mendatangkan kesan yang positif bagi siswa, baik di luar kelas maupun didalam kelas. Kultur diyakini mempengaruhi prilaku seluruh komponen sekolah, yaitu: guru, kepala sekolah, staf administrasi, siswa dan juga orang tua siswa. Kultur yang kondusif bagi peningkatan mutu akan mendorong perilaku warga ke arah peningkatan mutu sekolah. Sebaliknya, kultur yang tidak kondusif akan menghambat upaya menuju peningkatan mutu sekolah. Kultur yang kondusif akan mendorong siapapun warga sekolah malu kalau tidak disiplin, siswa malu kalau tidak mengerjakan pekerjaan rumah, mendorong kepala sekolah untuk berbuat adil dan tegas (Siswanto, 2014). Selama ini sering terjadi di sekolah, ada siswa yang kehilangan motivasi dan minat belajar ketika masuk kelas. Dalam kegiatan pembe- lajaran , kemampuan peserta didik untuk memahami peran setiap tingkat representasi dan mentransfer dari suatu tingkat menjadi tingkat lain merupakan aspek penting untuk meng-hasilkan penjelasan yang dapat dimengerti oleh siswa (Rahayu & Kita, 2009). Salah satu cita-cita nasional yang harus diperjuangkan oleh bangsa Indonesia adalah menghasilkan sumber daya manusia yang unggul dan berkualitas. Untuk mencapai tujuan pendidikan yang berkualitas diperlukan manajemen pendidikan yang dapat memobilisasi segala sumber daya pendidikan. Manajemen mutu terpadu di pendidikan (Total Quality Management in Education) merupakan paradigma baru dalam menjalankan bisnis bidang pendidikan yang berupaya untuk memaksimalkan daya saing sekolah melalui perbaikan secara berkesi-nambungan atas kualitas produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan sekolah. Quality Management atau lebih dikenal di Indonesia manajemen mutu terpadu adalah manajemen yang diterapkan dalam dunia manajemen perusahaan (bisnis) yang banyak dikembangkan para pakar insinyur, tetapi dalam perkembangannya banyak lembaga pendidikan mengembangkan sendiri konsep manajemen mutu terpadu. Strategi yang dikembangkan dalam penggunaan manajemen mutu terpadu dalam dunia pendidikan adalah institusi pendidikan memposisikan dirinya sebagai institusi jasa atau dengan kata lain menjadi industri jasa. Institusi yang memberikan pelayanan (service) sesuai dengan keinginan para pelanggan (customer). Oleh karenanya, dalam memposisikan institusi pendidikan sebagai industri jasa harus memenuhi standar mutu. Pengertian ini tidak menekankan suatu komponen dalam sistem pendidikan, tetapi menyangkut seluruh komponen penyelenggaraan pendidikan yaitu input, proses, dan output. Total quality management merupakan proses pening- katan mutu secara utuh, dan bila prosesnya dilakukan secara mandiri maka manajemen mutu terpadu terdiri dari tiga tahap peningkatan mutu secara kontinu (three steps to continuous improvement), yaitu: 1) perhatian penuhkepada pelanggan, baik pelanggan internal
maupun eksternal; 2) pembinaan proses; dan
3) keterlibatan secara total. Manajemen mutu
terpadu merupakan salah satu ikhtiar agar dapat
meningkatkan mutu sekolah dengan melalui
perbaikan terus-menerus berkesinambungan
atas kualitas produk, jasa manusia, proses dan
lingkungan organisasi. Dengan demikian,
pengelolaan sekolah yang e fektif harus
melibatkan semua komponen di sekolah untuk
bersama-sama mencapai visi sekolah dalam
menuju sekolah yang berprestasi dan dapat
memberikan kepuasan pelanggan (Suryani,
2013).
Kultur Sekolah yang Menyenangkan
Kultur sekolah adalah kualitas kehidupan yang
mewujud dalam aturan-aturan atau norma, tata
kerja, kebiasaan kerja, gaya kepemimpinan seorang pemimpin maupun anggota yang ada
di sekolah. Kualitas kultur di sekolah akan tumbuh
dan berkembang berdasarkan nilai-nilai, spirit,
dan aturan yang telah disepakati di sekolah.
Kultur sekolah dapat dipahami dari dua sisi yaitu:
1) sisi batiniah, dari sisi kultur sekolah adalah
nilai, prinsip, semangat, dan keyakinan yang
dianut oleh sekolah; dan 2) kultur lahiriah adalah
aturan, prosedur, yang mengatur hubungan
anggota sekolah baik formal dan informal
(Dapiyana, 2008).
Konsep kultur sekolah yang baik harus
seimbang antara kultur yang bersifat batiniah
dan lahiriah, sehingga sekolah menyenangkan.
Sekolah akan berkualitas apabila kultur sekolah
ditumbuhkembangkan pada seluruh pihak
sekolah yaitu dari kepala sekolah, para guru,
para tenaga kependidikan, dan siswa. Kultur
sekolah baik yang batiniah maupun lahiriah harus
dijadikan budaya bagi semua warga sekolah.
Membahas masalah pendidikan di sekolah, tentu
tidak cukup hanya memperhatikan materi
pelajaran, ketersediaan buku, sarana dan
prasarana. Sekolah perlu memperhatikan
bagaimana kultur yang baik harus dibangun
bersama-sama warga sekolah. Oleh karena itu,
pendidik harus mengembangkan program-
program kurikuler dan pedagogis untuk
membekali anak-anak dengan keterampilan lintas
budaya. Pendidikan yang dikembangkan
selayaknya mengakomodasi nilai-nilai lokal
masyarakat (Hannerz, 2009).
Dalam mewujudkan sekolah yang bermutu
karena pihak sekolah harus dapat membuat
perencanaan dan kesepakatan antara pihak
sekolah dan para pemangku kepentingan.
Mencermati pendapat di atas dapat dijelaskan
bahwa, setiap sekolah tentu harus memiliki
spirit, nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, slogan-
slogan atau moto, kebiasaan-kebiasaan dan
upacara-upacara yang baik. Sekolah harus
mengembangkan spirit, nilai-nilai persaudaraan,
kejujuran, kesederhanaan dan cara demokrasi
yang baik. Kultur sekolah yang baik akan
mempengaruhi pembuatan struktur sekolah,
aturan-aturan sekolah, tata tertib sekolah, hubungan vertikal dan horizontal antarwarga
sekolah. Kultur sekolah yang baik juga akan
mempengaruhi acara-acara ritual dan seremonial
sekolah, misalkan dalam melakukan upacara
sekolah yang dilaksanakan setiap hari Senin
ataupun pada hari-hari besar tertentu. Kultur
sekolah dari sifat kesederhanaan dapat dilihat
dari cara berpakaian dan peralatan sekolah yang
dipakai untuk belajar di dalam kelas. Kultur
sekolah yang didasari nilai kejujuran dan
kesederhanaan akan berdampak secara
langsung ataupun tidak secara langsung pada
siswanya.
Kultur sekolah bersumber dari spirit dan nilai-
nilai yang dianut oleh sekolah. Menurut Zamroni
(2002) nilai-nilai tersebut menjadi sumber
kualitas kehidupan sekolah dalam rangka
menumbuhkembangkan kecakapan hidup siswa,
diantaranya sebagai berikut: 1) nilai-nilai
keimanan dan ketaqwaan; 2) nilai-nilai kejujuran;
3) nilai-nilai keterbukaan; 4) nilai-nilai semangat
hidup; 5) nilai-nilai semangat belajar; 6) nilai-
nilai menyadari diri sendiri dan keberadaan orang
lain; 7) nilai-nilai untuk menghargai orang lain;
8) nilai-nilai persatuan dan kesatuan; 9) nilai-
nilai untuk selalu bersikap dan prasangka positif;
10) nilai-nilai disiplin diri; dan 11) nilai-nilai
kebersamaan.
Meningkatkan kultur sekolah yang baik perlu
kerja sama pihak sekolah dengan orang yang
peduli terhadap pendidikan dan butuh waktu
yang cukup lama. Pendapat tersebut, dapat
diketahui bahwa kultur sekolah merupakan hal
yang sangat penting untuk diperhatikan dan
dikembangkan. Kultur sekolah dibagi menjadi
tiga, yaitu artifak di permukaan, nilai-nilai dan
keyakinan di tengah, dan asumsi dasar. Artifak
adalah lapisan kultur sekolah yang paling mudah
diamati seperti aneka ritual sehari-hari di
sekolah, berbagai upacara, benda-benda
simbolik di sekolah, dan aneka ragam kebiasaan
yang berlangsung di sekolah. Keberadaan kultur
ini dengan cepat dapat dirasakan ketika orang
mengadakan kontak dengan suatu sekolah.
Aspek kultur ini kemudian dimanifestasikan dalam
aspek kultur yang nyata dan diamati, yakni artifak fisik maupun prilaku. Dengan demikian
keadaan fisik dan prilaku warga sekolah didasari
oleh asumsi, nilai-nilai dan keyakinan (Zamroni,
2002). Kepala sekolah sebagai sentral pengem-
bangan kultur sekolah harus dapat menjadi
contoh dalam berinteraksi di sekolah. Kepala
sekolah adalah figur yang memiliki komitmen
terhadap tugas sekolah, jujur dalam kata dan
perbuatan dan selalu bermusyawarah dalam
membuat kebijakan sekolah, rumah dan
menghargai pendapat orang lain. Selain itu,
kepala sekolah merupakan model bagi warga
sekolah. Keadaan pemikiran di atas, peran guru
dalam menciptakan kultur sekolah memberi
pengaruh yang besar terhadap proses
pembelajaran yang dilakukan di sekolah. Guru
merupakan sosok yang harus bisa menjadi
pentransfer nilai-nilai dan ilmu pengetahuan
kepada siswa, sekaligus menjadi teladan dan
sosok yang dapat dijadikan figur untuk diteladani
oleh siswa. Ini dilakukan guru untuk menciptakan
kultur sekolah yang mencerminkan nilai-nilai
kultur sekolah termasuk diantaranya yaitu nilai
keyakinan akan nilai-nilai serta kebiasaan-
kebiasaan, dilakukan untuk dapat menjadi
pegangan bagi siswa dalam menghadapi
berbagai permasalahan yang dihadapi. Oleh
karena itu, antara guru dan siswa harus
bersinergi dalam melaksanakan kegiatan
pembelajaran (Agus Supriyono, 2012). Selain pembentukan kultur sekolah yang
dilakukan di dalam kelas, semua warga sekolah juga harus membentuk iklim sekolah yang kondusif di luar kelas. Kultur sekolah di luar kelas ini seperti adanya pembentukan kebiasaan-kebiasaan positif yang harus diterapkan oleh semua warga sekolah, seperti membiasakansenyum ketika bertemu guru dan teman sebaya, membiasakan untuk menjaga kebersihan lingkungan sekolah, tidak berkata-kata kasar, dan tidak berbuat keributan. Kesemuanya itu diharapkan akan dapat membentuk mental positif siswa dalam kehidupan sehari-hari, baik ketika berada di lingkungan sekolah maupun ketika berada di tempat tinggal siswa.
Kultur sangat penting untuk dikembangkan di sekolah Manajemen Sekolah merupakan suatu kegiatan yang dilakukan secara efektif dan efisien untuk meningkatkan kinerja sekolah dalam pencapaian tujuan pendidikan baik tujuan nasional dan tujuan kelembagaan yang hasilnya bisa dilihat dari beberapa faktor sebagai indikator kinerja yang berhasil dicapai oleh sekolah.
Kumaris, 2014).