Minggu, 18 April 2021

Manajemen Sekolah

 Nama: Bastiah

Nim: 11901121

Kelas: PAI 4D



Dalam mencapai tujuan penyelenggaraan sekolah yang efektif diperlukan pengelolaan sekolah sesuai kondisi dan situasi tempat sekolah tersebut diselenggarakan. Untuk pengelolaan sekolah, seorang kepala sekolah atau pemimpin harus memberi perhatian terhadap aspek informal, aspek simbolik, dan aspek yang tidak tampak dari kehidupan sekolah yang telah membentuk keyakinan dan tindakan tiap warga sekolah. Kepala sekolah mempunyai tugas dalam menciptakan atau membentuk dan mendukung kultur untuk menguatkan sikap efektif dalam segala hal yang dikerjakan di sekolah. Dengan menggunakan 10 indikator organisasi yang sehat, Macneil, Prater, & Busch (2010) melakukan penelitian terhadap tiga jenis sekolah yaitu, sekolah unggulan, sekolah contoh, dan sekolah kebanyakan. Penelitian tersebut memperlihatkan bahwa sekolah contoh lebih baik daripada sekolah kebanyakan, tidak ditemukan perbedaan yang signifikan antara sekolah contoh dan unggulan , tetapi perbedaan signifikan terlihat pada sekolah unggulan yang lebih baik daripada sekolah kebanyakan dalam dimensi fokus dan adaptasi sekolah. Dengan demikian, suasana atau iklim budaya sekolah yang sehat akan mempengaruhi prestasi belajar siswa di sekolah. Kepala sekolah bertanggung jawab untuk membangun budaya dalam pelaksanaan proses belajar mengajar di sekolah. Bukan hanya dengan cara mengubah struktur dan fungsi sekolah beroperasi karena harus terlebih dahulu memahami budaya sekolah bukan hanya mengelolanya saja. Hal ini penting untuk menyadari budaya yang kompleks karena memiliki cara yang sangat unik dan istimewa dari bekerja. Melihat peran kultur sekolah yang begitu signifikan dalam mempengaruhi proses pembelajaran yang dilakukan di sekolah, dibutuhkan adanya kerja sama antarsemua warga sekolah, mulai dari kepala sekolah, guru, dan semua staf. Hal ini menunjukkan bahwa upaya pembentukan kultur sekolah merupakan tanggung jawab semua warga sekolah, yang dilakukan dengan kesungguhan dan loyalitas tinggi. Kultur sekolah yang baik harus mencerminkan nilai-nilai yangbersahabat dan mendatangkan kesan yang positif bagi siswa, baik di luar kelas maupun didalam kelas. Kultur diyakini mempengaruhi prilaku seluruh komponen sekolah, yaitu: guru, kepala sekolah, staf administrasi, siswa dan juga orang tua siswa. Kultur yang kondusif bagi peningkatan mutu akan mendorong perilaku warga ke arah peningkatan mutu sekolah. Sebaliknya, kultur yang tidak kondusif akan menghambat upaya menuju peningkatan mutu sekolah. Kultur yang kondusif akan mendorong siapapun warga sekolah malu kalau tidak disiplin, siswa malu kalau tidak mengerjakan pekerjaan rumah, mendorong kepala sekolah untuk berbuat adil dan tegas (Siswanto, 2014). Selama ini sering terjadi di sekolah, ada siswa yang kehilangan motivasi dan minat belajar ketika masuk kelas. Dalam kegiatan pembe- lajaran , kemampuan peserta didik untuk memahami peran setiap tingkat representasi dan mentransfer dari suatu tingkat menjadi tingkat lain merupakan aspek penting untuk meng-hasilkan penjelasan yang dapat dimengerti oleh siswa (Rahayu & Kita, 2009). Salah satu cita-cita nasional yang harus diperjuangkan oleh bangsa Indonesia adalah menghasilkan sumber daya manusia yang unggul dan berkualitas. Untuk mencapai tujuan pendidikan yang berkualitas diperlukan manajemen pendidikan yang dapat memobilisasi segala sumber daya pendidikan. Manajemen mutu terpadu di pendidikan (Total Quality Management in Education) merupakan paradigma baru dalam menjalankan bisnis bidang pendidikan yang berupaya untuk memaksimalkan daya saing sekolah melalui perbaikan secara berkesi-nambungan atas kualitas produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan sekolah. Quality Management atau lebih dikenal di Indonesia manajemen mutu terpadu adalah manajemen yang diterapkan dalam dunia manajemen perusahaan (bisnis) yang banyak dikembangkan para pakar insinyur, tetapi dalam perkembangannya banyak lembaga pendidikan mengembangkan sendiri konsep manajemen mutu terpadu. Strategi yang dikembangkan dalam penggunaan manajemen mutu terpadu dalam dunia pendidikan adalah institusi pendidikan memposisikan dirinya sebagai institusi jasa atau dengan kata lain menjadi industri jasa. Institusi yang memberikan pelayanan (service) sesuai dengan keinginan para pelanggan (customer). Oleh karenanya, dalam memposisikan institusi pendidikan sebagai industri jasa harus memenuhi standar mutu. Pengertian ini tidak menekankan suatu komponen dalam sistem pendidikan, tetapi menyangkut seluruh komponen penyelenggaraan pendidikan yaitu input, proses, dan output. Total quality management merupakan proses pening- katan mutu secara utuh, dan bila prosesnya dilakukan secara mandiri maka manajemen mutu terpadu terdiri dari tiga tahap peningkatan mutu secara kontinu (three steps to continuous improvement), yaitu: 1) perhatian penuhkepada pelanggan, baik pelanggan internal

maupun eksternal; 2) pembinaan proses; dan

3) keterlibatan secara total. Manajemen mutu

terpadu merupakan salah satu ikhtiar agar dapat

meningkatkan mutu sekolah dengan melalui

perbaikan terus-menerus berkesinambungan

atas kualitas produk, jasa manusia, proses dan

lingkungan organisasi. Dengan demikian,

pengelolaan sekolah yang e fektif harus

melibatkan semua komponen di sekolah untuk

bersama-sama mencapai visi sekolah dalam

menuju sekolah yang berprestasi dan dapat

memberikan kepuasan pelanggan (Suryani,

2013).

Kultur Sekolah yang Menyenangkan

Kultur sekolah adalah kualitas kehidupan yang

mewujud dalam aturan-aturan atau norma, tata

kerja, kebiasaan kerja, gaya kepemimpinan seorang pemimpin maupun anggota yang ada

di sekolah. Kualitas kultur di sekolah akan tumbuh

dan berkembang berdasarkan nilai-nilai, spirit,

dan aturan yang telah disepakati di sekolah.

Kultur sekolah dapat dipahami dari dua sisi yaitu:

1) sisi batiniah, dari sisi kultur sekolah adalah

nilai, prinsip, semangat, dan keyakinan yang

dianut oleh sekolah; dan 2) kultur lahiriah adalah

aturan, prosedur, yang mengatur hubungan

anggota sekolah baik formal dan informal

(Dapiyana, 2008).

Konsep kultur sekolah yang baik harus

seimbang antara kultur yang bersifat batiniah

dan lahiriah, sehingga sekolah menyenangkan.

Sekolah akan berkualitas apabila kultur sekolah

ditumbuhkembangkan pada seluruh pihak

sekolah yaitu dari kepala sekolah, para guru,

para tenaga kependidikan, dan siswa. Kultur

sekolah baik yang batiniah maupun lahiriah harus

dijadikan budaya bagi semua warga sekolah.

Membahas masalah pendidikan di sekolah, tentu

tidak cukup hanya memperhatikan materi

pelajaran, ketersediaan buku, sarana dan

prasarana. Sekolah perlu memperhatikan

bagaimana kultur yang baik harus dibangun

bersama-sama warga sekolah. Oleh karena itu,

pendidik harus mengembangkan program-

program kurikuler dan pedagogis untuk

membekali anak-anak dengan keterampilan lintas

budaya. Pendidikan yang dikembangkan

selayaknya mengakomodasi nilai-nilai lokal

masyarakat (Hannerz, 2009).

Dalam mewujudkan sekolah yang bermutu

karena pihak sekolah harus dapat membuat

perencanaan dan kesepakatan antara pihak

sekolah dan para pemangku kepentingan.

Mencermati pendapat di atas dapat dijelaskan

bahwa, setiap sekolah tentu harus memiliki

spirit, nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, slogan-

slogan atau moto, kebiasaan-kebiasaan dan

upacara-upacara yang baik. Sekolah harus

mengembangkan spirit, nilai-nilai persaudaraan,

kejujuran, kesederhanaan dan cara demokrasi

yang baik. Kultur sekolah yang baik akan

mempengaruhi pembuatan struktur sekolah,

aturan-aturan sekolah, tata tertib sekolah, hubungan vertikal dan horizontal antarwarga

sekolah. Kultur sekolah yang baik juga akan

mempengaruhi acara-acara ritual dan seremonial

sekolah, misalkan dalam melakukan upacara

sekolah yang dilaksanakan setiap hari Senin

ataupun pada hari-hari besar tertentu. Kultur

sekolah dari sifat kesederhanaan dapat dilihat

dari cara berpakaian dan peralatan sekolah yang

dipakai untuk belajar di dalam kelas. Kultur

sekolah yang didasari nilai kejujuran dan

kesederhanaan akan berdampak secara

langsung ataupun tidak secara langsung pada

siswanya.

Kultur sekolah bersumber dari spirit dan nilai-

nilai yang dianut oleh sekolah. Menurut Zamroni

(2002) nilai-nilai tersebut menjadi sumber

kualitas kehidupan sekolah dalam rangka

menumbuhkembangkan kecakapan hidup siswa,

diantaranya sebagai berikut: 1) nilai-nilai

keimanan dan ketaqwaan; 2) nilai-nilai kejujuran;

3) nilai-nilai keterbukaan; 4) nilai-nilai semangat

hidup; 5) nilai-nilai semangat belajar; 6) nilai-

nilai menyadari diri sendiri dan keberadaan orang

lain; 7) nilai-nilai untuk menghargai orang lain;

8) nilai-nilai persatuan dan kesatuan; 9) nilai-

nilai untuk selalu bersikap dan prasangka positif;

10) nilai-nilai disiplin diri; dan 11) nilai-nilai

kebersamaan.

Meningkatkan kultur sekolah yang baik perlu

kerja sama pihak sekolah dengan orang yang

peduli terhadap pendidikan dan butuh waktu

yang cukup lama. Pendapat tersebut, dapat

diketahui bahwa kultur sekolah merupakan hal

yang sangat penting untuk diperhatikan dan

dikembangkan. Kultur sekolah dibagi menjadi

tiga, yaitu artifak di permukaan, nilai-nilai dan

keyakinan di tengah, dan asumsi dasar. Artifak

adalah lapisan kultur sekolah yang paling mudah

diamati seperti aneka ritual sehari-hari di

sekolah, berbagai upacara, benda-benda

simbolik di sekolah, dan aneka ragam kebiasaan

yang berlangsung di sekolah. Keberadaan kultur

ini dengan cepat dapat dirasakan ketika orang

mengadakan kontak dengan suatu sekolah.

Aspek kultur ini kemudian dimanifestasikan dalam

aspek kultur yang nyata dan diamati, yakni artifak fisik maupun prilaku. Dengan demikian

keadaan fisik dan prilaku warga sekolah didasari

oleh asumsi, nilai-nilai dan keyakinan (Zamroni,

2002). Kepala sekolah sebagai sentral pengem-

bangan kultur sekolah harus dapat menjadi

contoh dalam berinteraksi di sekolah. Kepala

sekolah adalah figur yang memiliki komitmen

terhadap tugas sekolah, jujur dalam kata dan

perbuatan dan selalu bermusyawarah dalam

membuat kebijakan sekolah, rumah dan

menghargai pendapat orang lain. Selain itu,

kepala sekolah merupakan model bagi warga

sekolah. Keadaan pemikiran di atas, peran guru

dalam menciptakan kultur sekolah memberi

pengaruh yang besar terhadap proses

pembelajaran yang dilakukan di sekolah. Guru

merupakan sosok yang harus bisa menjadi

pentransfer nilai-nilai dan ilmu pengetahuan

kepada siswa, sekaligus menjadi teladan dan

sosok yang dapat dijadikan figur untuk diteladani

oleh siswa. Ini dilakukan guru untuk menciptakan

kultur sekolah yang mencerminkan nilai-nilai

kultur sekolah termasuk diantaranya yaitu nilai

keyakinan akan nilai-nilai serta kebiasaan-

kebiasaan, dilakukan untuk dapat menjadi

pegangan bagi siswa dalam menghadapi

berbagai permasalahan yang dihadapi. Oleh

karena itu, antara guru dan siswa harus

bersinergi dalam melaksanakan kegiatan

pembelajaran (Agus Supriyono, 2012). Selain pembentukan kultur sekolah yang

dilakukan di dalam kelas, semua warga sekolah juga harus membentuk iklim sekolah yang kondusif di luar kelas. Kultur sekolah di luar kelas ini seperti adanya pembentukan kebiasaan-kebiasaan positif yang harus diterapkan oleh semua warga sekolah, seperti membiasakansenyum ketika bertemu guru dan teman sebaya, membiasakan untuk menjaga kebersihan lingkungan sekolah, tidak berkata-kata kasar, dan tidak berbuat keributan. Kesemuanya itu diharapkan akan dapat membentuk mental positif siswa dalam kehidupan sehari-hari, baik ketika berada di lingkungan sekolah maupun ketika berada di tempat tinggal siswa. 

Kultur sangat penting untuk dikembangkan di sekolah Manajemen Sekolah merupakan suatu kegiatan yang dilakukan secara efektif dan efisien untuk meningkatkan kinerja sekolah dalam pencapaian tujuan pendidikan baik tujuan nasional dan tujuan kelembagaan yang hasilnya bisa dilihat dari beberapa faktor sebagai indikator kinerja yang berhasil dicapai oleh sekolah.

Kumaris, 2014).

Minggu, 11 April 2021

Manajemen kelas yang efektif

Nama: Bastiah

Kelas: PAI 4D (11901121)

 Pengertian Manajemen Kelas

Manajemen kelas berasal dari dua kata, yaitu manajemen dan kelas. 

Manajemen berasal dari kata bahasa Inggris yaitu management, yang diterjemahkan pula menjadi pengelolaan, berarti proses penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran. Sementara yang dimaksud kelas secara umum diartikan sebagai sebagai sekelompok peserta didik yang ada pada waktu yang sama menerima pembelajaran yang sama dari pendidik yang sama. Sebagian pengamat yang lain mengartikan kelas menjadi dua pemaknaan, yaitu: Pertama, kelas dalam arti sempit, yaitu berupa ruangan khusus, tempat sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses belajar mengajar. Kelas dalam hal ini mengandung sifat-sifat statis, karena sekedar menunjuk pada adanya pengelompokan siswa berdasarkan batas umur kronologis masing-masing. Kedua, kelas dalam arti luas, yaitu suatu masyarakat kecil yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar secara kreatif untuk mencapai tujuan. Dengan demikian, manajemen kelas adalah segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana pembelajaran yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi peserta didik dengan baik.

Menurut Sudarman Danim, manajemen kelas dapat didefinisikan sebagai berikut;

1) Manajemen kelas adalah seni atau praktis (praktik dan strategi) kerja, yaitu pendidik bekerja secara individu, dengan atau melalui orang lain (semisal bekerja dengan sejawat atau peserta didik sendiri) untuk mengoptimalkan sumber daya kelas bagi penciptaan proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Di sini sumber daya kelas merupakan instrument, proses pembelajaran sebagai inti, dan hasil belajar sebagaimana mestinya.

2) Manajemen kelas adalah proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang dilakukan oleh pendidik, baik individual maupun dengan atau melalui orang lain (semisal dengan sejawat atau peserta didik) untuk mengoptimalkan proses pembelajaran. Kata perencanaan di sini merujuk pada perencanaan pembelajaran dan unsur-unsur penunjangnya. Pelaksanaan bermakna proses pembelajaran, sedangkan evaluasi bermakna evaluasi pembelajaran. Evaluasi di sini terdiri dua jenis. Evaluasi di sini terdiri dari dua jenis, yaitu evaluasi proses dan evaluasi hasil pembelajaran.

3) Manajemen kelas adalah proses perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan yang dilakukan oleh pendidik, baik individual maupun dengan atau melalui orang lain (semisal sejawat atau peserta didik) untuk mencapai tujuan pembelajaran yang efektif dan efisien, dengan cara memanfaatkan segala sumber daya yang ada.

Elemen-elemen yang perlu diperhatikan dalam manajemen kelas:

Elemen yang bisa di observasi

penggunaan ruangan kelas

penggunaan waktu

aktivitas belajar mengajar

interaksi/komunikasi

suasana

fasilitas kelas

2. Elemen-elemen tersembunyi

faktor individual kognitif dan afektif)

faktor kelompok

faktor pergaulan luas, budaya dan lain-lain

3. Elemen-elemen inti:

waktu dan tempat (time and space)

engagement (afektif domain)

partisipasi

Tujuan Manajemen Kelas:

Mewujudkan situasi dan kondisi kelas yang memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan kemampuan

Menghilangkan berbagai kendala yang menghambat terwujudnya interaksi pembelajaran

Menyediakan dan mengatur fasilitas yang mendukung dan memungkinkan belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional, dan intelek siswa dalam belajar

Membina dan membimbing siswa sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya, serta sifat-sifat individualnya.

Kegiatan manajemen kelas meliputi dua kegiatan yang secara garis besar terdiri dari:

a. Pengaturan orang (siswa)

Penempatan siswa dalam kelas sesuai dengan potensi intelektual dan perkembangan emosionalnya. Siswa diberi kesempatan untuk memperoleh posisi dalam belajar yang sesuai dengan minat dan keinginannya.

b. Pengaturan fasilitas

Fasilitas kelas harus dapat memenuhi dan mendukung interaksi yang terjadi sehingga harmonisasi kehidupan kelas dapat berlangsung dengan baik dari permulaan masa kegiatan belajar sampai akhir masa belajar mengajar.

pemecahan masalah manajemen kelas menurut Maman Surachman (1999:2016-227) adalah sebagai berikut:

a.     Pengenalan siswa

Pengenaln yang baik terhadap siswa dan pengetahuan mengenai latar belakang mereka akan membuat guru bisa memahami dan mengaambil langkah yang tepaat dalam manajemen kelas

b.     Melakukan tindakan korektif

Guru dituntut untuk berbuat sesuatu setepat mungkin dalam kelas

c.     Melakukan tindakan penyembuhan

Kegiatan penyembuhan dapat dimulai dengan pertemuan langsung dengan siswa sehingga bisa tercipta kontrak individual antara guru dan siswa untuk sama sama memperbaiki diri.

Konsep Dasar Manajemen Kelas

Manajemen merupakan suatu proses tertentu yang menggunakan kemampuan atau keahlian untuk mencapai suatu tujuan yang di dalam pelaksanaannya dapat mengikuti alur keilmuan secara ilmiah dan dapat pula menempatkan posisi sebagai seorang manajer dalam memanfaatkan orang lain.

Konsep dasar yang perlu dicermati dalam manajemen kelas adalah penempatan individu, kelompok, sekolah, dan faktor lingkungan yang mempengaruhinnya. Tugas guru sebagai mengontrol, mengatur atau mendisiplinkan peserta didik adalah tindakan yang kurang tepat lagi untuk saat ini. Aktifitas guru saat ini yang terpenting adalah memanaj, mengorganisir dan mengkoordinasikan segala aktifitas peserta didik menuju tujuan pembelajaran. Mengelola kelas merupakan ketrampilan yang harus dimiliki guru dalam memutuskan, memahami, mendiagnosis, dan kemampuan bertindak menuju perbaikan suasana kelas terhadap aspek-aspek manajemen kelas.

Dalam manajemen kelas, guru melakukan sebuah proses atau tahapan kegiatan yang dimulai dari merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi, sehingga apa yang dilakukannya merupakan satu kesatuan yang utuh dan saling terkait, sehingga seorang guru harus menumbuhkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif seperti tujuan pengajaran, pengaturan waktu, pengaturan ruangan dan peralatan, serta pengelompokan siswa atau kelompok.

Fungsi-fungsi Manajemen dalam Kelas

Pemahaman mengenai fungsi-fungsi manajemen secara umum dapat diklasifikasikan menjadi dua fungsi utama, yaitu fungsi organik dan fungsi pelengkap. Fungsi organik terkait dengan semua fungsi yang mutlak dijalankan oleh manajemen organisasi, sedangkan fungsi pelengkap terkait dengan semua fungsi yang mendukung agar pencapaian kinerja organisasi dapat dilakukan dengan lebih efektif dan efisien.

Fungsi manajemen kelas sebenarnya merupakan implementasi dari fungsi-fungsi manajemen yang diaplikasikan di dalam kelas oleh guru untuk mendukung pencapaian tujuan pembelajaran secara efektif. Berikut fungsi manajemen kelas antara lain:

1) Fungsi Perencanaan Kelas

Perencanakan adalah proses menentukan apa yang seharusnya dicapai dan bagaimana mencapainya sehingga harus membuat suatu target yang ingin dicapai atau diaraih di masa depan.

2) Fungsi Pengorganisasian Kelas

Setelah mendapat kepastian tentang arah, tujuan, tindakan, sumber daya, sekaligus metode atau teknik yang tepat untuk digunakan, lebih lanjut lagi guru melakukan upaya pengorganisasian agar rencana tersebut dapat berlangsung dengan sukses.

Dalam manajemen atau pengelolaan kelas, ada pengorganisasian yang meliputi: Organisasi intra dan ekstra kelas, organisasi kegiatan belajar-mengajar, organisasi personil siswa dan organisasi fasilitas fisik kelas. Denganadanya pengorganisasian kelas diharapkan kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan baik dan lancar sehingga tujuan yang ditetapkan dapat tercapai.

3) Fungsi Kepemimpinan Kelas

Kepemimpinan efektif di ruang kelas merupakan bagian dari tanggung jawab guru di dalam kelas. Kepemimpinan adalah mempengaruhi orang lain untuk melakukan apa yang diinginkan pemimpin. Dalam hal ini guru memimpin, mengarahkan, memotivasi, dan membimbing peserta didik untuk dapat melaksanakaan proses belajar dan pembelajaran yang efektif sesuai dengan fungsi dan tujuan pembelajaran.

4) Fungsi Pengendalian Kelas

Mengendalikan kelas bukan merupakan perkara yang mudah, karena di dalam kelas terdapat berbagai macam peserta didik yang memiliki karakteristik yang berbeda. Kegiatan di dalam kelas dimonitor, dicatat, dan kemudian dievaluasi agar dapat dideteksi apa yang kurang serta dapat direnungkan kira-kira apa yang perlu diperbaiki.