Nama: Bastiah
Nim: 11901121
Kelas: PAI 4D
Makul: Magang 1
Strategi Pembelajaran
Strategi adalah suatu seni merancang
operasi di dalam peperangan seperti
cara-cara mengatur posisi atau siasat
dalam berperang, seperti dalam angkatan
darat atau angkatan laut. Secara umum,
strategi merupakan suatu teknik yang
digunakan untuk mencapai suatu tujuan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
edisi kedua (1989), strategi adalah ilmu dan
seni menggunakan semua sumber daya
bangsa-bangsa untuk melaksanakan
kebijaksanaan tertentu dalam perang dan
damai. Menurut O’Malley dan Chamot
(1990), strategi adlah seperangkat alat yang
melibatkan individu secara langsung untuk
mengembangkan bahasa kedua atau bahasa
asing. Strategi sering dihubungkan dengan prestasi bahasa dan kecakapan dalam
menggunakan bahasa.
Untuk memahami makna strategi
secara lebih dalam, biasanya dikaitkan
dengan istilah pendekatan dan metode.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
(1995) Pendekatan adalah proses,
perbuatan, atau cara mendekati. Pendekatan
merupakan sikap atau pandangan tentang
sesuatu, yang biasanya berupa asumsi.
Metode adalah rencana keseluruhan bagi
penyajian bahan bahasa secara rapi dan
tertib. Sifat sebuah metode adalah
prosedural.
Strategi belajar dapat digambarkan
sebagai sifat dan tingkah laku. Oxford
mendefinisikan strategi belajar sebagai
tingkah laku yang dipakai oleh pembelajar
agar pembelajaran bahasa berhasil, terarah,
dan menyenangkan. Strategi belajar
mengacu pada perilaku dan proses berfikir
yang digunakan serta mempengaruhi apa
yang dipelajari. Strategi pembelajaran
bahasa adalah tindakan melaksanakan
rencana dengan menggunakan beberapa
variabel seperti tujuan, bahan, metode, dan
alat, serta evaluasi agar mencapai tujuan
yang telah ditetapkan.
Strategi belajar menurut Huda (1999),
antara lain:
1. Strategi Utama dan Strategi Pendukung.
Strategi utama dipakai secara langsung
dalam mencerna materi pembelajaran.
Strategi pendukung dipakai untuk
mengembangkan sikap belajar dan
membantu pembelajar dalam mengatasi
masalah seperti gangguan, kelelahan,
frustasi, dan lain sebagainya.
2. Strategi Kognitif dan Strategi
Metakognitif.
Strategi kognitif dipakai untuk
mengelola materi pembelajaran agar dapat diingat untuk jangka waktu yang
lama. Strategi metakognitif adalah
langkah yang dipakai untuk
mempertimbangkan proses kognitif,
seperti monitoring diri sendiri, dan
penguatan diri sendiri.
3. Strategi Sintaksis dan Strategi Semantik.
Strategi sintaksis adalah kata fungsi,
awalan, akhiran, dan penggolongan kata.
Strategi semantik adalah berhubungan
dengan objek nyata, situasi, dan
kejadian.
Strategi pembelajaran berdasarkan
klasifikasinya, sebagai berikut:
1. Penekanan Komponen dalam Program
Pengajaran
Komponen program pengajaran anatara lain
yang berpusat pada pengajar, peserta didik,
dan materi pengajaran. Berpusat pada
pengajar, pengajar menyampaikan
informasi kepada peserta didik. Teknik
penyajian adalah teknik ceramah, teknik
team teaching, teknik sumbang saran,
teknik demonstrasi, dan teknik antar
disiplin. Berpusat pada peserta didik,
strategi pembelajaran seperti ini
memberikan kesempatan seluas-luasnya
kepada peserta didik untuk aktif dan
berperan dalam kegiatan pembelajaran.
Dalam hal ini, pengajar berperan sebagai
fasilitator dan motivator. Teknik penyajian
adalah teknik diskusi, teknik kerja
kelompok, teknik penemuan, teknik
eksperimen, teknik kerja lapangan, dan
teknik penyajian kusus. Berpusat pada
materi pengajaran, materi terbagi dua yaitu
materi formal dan materi informal. Materi
formal adalah isi pelajaran yang terdapat
dalam buku-buku teks resmi disekolah,
sedangkan materi informal adalah bahan bahan pelajaran yang bersumber dari
lingkungan sekolah. Teknik penyajian
adalah tutorial, teknik modular, teknik
pengajaran terpadu, dan teknik demonstrasi.
2. Kegiatan Pengolahan Pesan atau Materi
Dibedakan menjadi dua, yaitu strategi
pembelajaran ekspositoris merupakan
strategi berbentuk penguraian, baik berupa
bahan tertulis maupun penjelasan secara
verbal. Strategi pembelajaran heuristik
adalah sebuah strategi yang menyiasati agar
aspek-aspek dari komponen-komponen
pembentuk sistem intruksional mengarah
kepada pengaktifan peserta didik untuk
mencari dan menemukan fakta, prinsip,
serta konsep yang mereka butuhkan.
3. Pengelohan Pesan atau Materi
Dibedakan menjadi dua, yaitu strategi
pembelajaran dedukasi adalah pesan diolah
mulai dari hal umum menuju kepada hal
khusus. Misalnya bila pengajaran tentang
kalimat tunggal, maka dimulai dengan
definisi kalimat tunggal, contoh-contoh
kalimat tunggal, dan dilanjutkan penjelasan
ciri-ciri kalimat tunggal. Sedangkan strategi
pembelajaran induksi adalah pesan diolah
mulai dari hal-hal yang khusus menuju
kepada konsep yang bersifat umum.
Misalnya bila pengajaran tentang kalimat
tunggal, maka dimulai dengan memberikan
contoh-contoh kalimat tunggal, ciri-ciri
kalimat tunggal sehingga peserta didik
dapat mendefinisikan sendiri tentang
kalimat tunggal.
4. Cara Memproses Penemuan
Dibedakan menjadi dua, yaitu strategi
pembelajaran ekspositoris merupakan
strategi berbentuk penguraian yang dapat
berupa bahan tertulis atau penjelasan
verbal. Strategi penemuan (discovery) adalah proses yang mampu
mengasimilasikan sebuah konsep atau
prinsip. Seperti mengamati, mencerna,
mengerti, menggolongkan, menduga,
menjelaskan, dan membuat kesimpulan.
Strategi Keterampilan Berbahasa
Bahasa dipergunakan sebagaian besar pada
aktivitas manusia. Semakin tinggi tingkat
penguasaan bahasa seseorang, semakin baik
pula penggunaan bahasa dalam
berkomunikasi. Penggunaan berbagai
teknik dan metode yang inovatif dapat
menciptakan situasi pembelajaran yang
kondusif. Melalui proses pembelajaran
yang dinamis, diharapkan akan tercipta
suatu bentuk komunikasi lisan yang terpola
melalui keterampilan menyimak, berbicara,
membaca, dan menulis.
1. Strategi Pembelajaran Keterampilan
Menyimak
Keterampilan menyimak adalah satu
bentuk keterampilan berbahasa yang
bersifat reseptif. Keterampilan
menyimak pada tahapan lebih tinggi
mampu menginformasikan kembali
pemahamannya malalui keterampilan
berbicara maupun menulis.
Strategi pembelajaran menyimak
sebagai berikut:
a. Pemberian informasi tertentu, dalam
hal ini peserta didik mendengarkan
sebuah informasi, dan melihat
demonstrasi serta mencatat.
b. Interaksi, dalam hal ini peserta didik
diberikan contoh lalu mencontohkan
dan mengulangi secara lebih kreatif
beserta tanya jawab.
c. Secara independen, peserta didik
melakukan kegiatan tertentu seperti,
menyimak rekaman berupa model, melakukan indentifikasi dan
klasifikasi dari suatu bentuk
interaksi/percakapan yang nyata.
Evaluasi kemampuan menyimak yaitu
tes melalui rekaman, tes dalam bentuk
tanya jawab, wawancara, menjawab isi
dialog, menjawab pertanyaan yang
berkenaan dengan drama yang baru
ditonton, dan bentuk tes lainnya.
2. Strategi Pembelajaran Keterampilan
Berbicara
Keterampilan berbicara merupakan
keterampilan memproduksi arus sistem
bunyi artikulasi untuk menyampaikan
kehendak, kebutuhan perasaan, dan
keinginan kepada orang lain.
Keterampilan berbicara diawali dengan
adanya pemahaman minimal dari
pembicara dalam membentuk sebuah
kalimat. Sebuah kalimat, betapapun
kecilnya, memiliki struktur dasar yang
saling berkaitan satu sama lain sehingga
mampu menyajikan sebuah makna.
Strategi pembelajaran berbicara merujuk
pada prinsip stimulus dan respon. Teknik
dalam strategi pembelajaran berbicara
antara lain:
a. Berbicara terpimpin meliputi frase
dan kalimat, dialog, dan pembacaan
puisi.
b. Berbicara semi-terpimpin meliputi
reproduksi cerita, cerita berantai,
menyusun kalimat dalam sebuah
pembicaraan, melaporkan isi bacaan
secara lisan.
c. Berbicara bebas meliputi diskusi,
drama, wawancara, berpidato, dan bermain peran.
3. Strategi Pembelajaran Keterampilan
Membaca
Keterampilan membaca memiliki
peranan penting dalam pengembangan
pengetahuan dan sebagai alat
komunikasi bagi kehidupan manusia.
Fakta di lapangan menunjukan bahwa
masyarakat di negara maju ditandai oleh
berkembangnya suatu kebiasaan
membaca yang tinggi. Membaca
merupakan suatu kegiatan untuk
mendapatkan makna dari apa yang
tertulis dalam teks. Pembelajaran
membaca harus memperhatikan cara
berfikir teratur dan baik. Membaca
melibatkan semua proses mental yang
lebih tinggi seperti ingatan, pemikiran,
daya khayal, pengaturan, penerapan, dan
pemecahan masalah.
Strategi pembelajaran membaca
adalah dengan menggunakan teknik
pemberian tugas membaca teks selama
waktu tertentu, kemudian mengajukan
pertanyaan. Tes kemampuan membaca
antara lain menggunakan bentuk btul-
salah, melengkapi kalimat, pilihan
ganda, dan pembuatan ringkasan atau
rangkuman. Selain itu, strategi lain untuk
meningkatkan keterampilan membaca
yakni dengan membaca karya sastra.
4. Strategi Pembelajaran Keterampilan
Menulis
Keterampilan menulis didasari oleh
penguasaan berbagai unsur kebahasaan
maupun unsur diluar bahasa yang akan
menjadi isi dalam tulisan. Keduanya
harus terjalin sehingga menghasilkan
tulisan yang runtun dan padu.
Keterampilan menulis merupakan suatu usaha untuk mengungkapkan pikiran dan
perasaan yang dilakukan secara tertulis.
Isi tulisan yang diungkapkan dapat
dipilih secara cermat dan disusun secara
sistematis agar dapat dipahami dengan
tepat. Tes keterampilan menulis adalah
dengan membuat karangan, dengan
kriteria penilaian sebagai berikut:
a. Kualitas dan ruang lingkup isi
b. Organisasi dan penyajian isi
c. Komposisi
d. Kohesi dan Koherensi
e. Gaya dan bentuk bahasa
f. Tata bahasa, ejaan, tanda baca
g. Kerapihan tulisan dan kebersihan
Keterampilan menulis melibatkan
unsur linguistik dan ekstralinguistik serta
memberikan kesempatan kepada peserta
didik untuk menggunakan bahasa secara
tepat dan memikirkan gagasan yang akan
dikemukakan.
TEORI YANG MELANDASI STRATEGI PEMBELAJARAN
Crowl, Kaminsky & Podell (1997) mengemukakan tiga pendekatan yang
mendasari pengembangan strategi pembelajaran. Pertama, Advance
Organizers dari Ausubel, yang merupakan pernyataan pengantar yang
membantu siswa mempersiapkan kegiatan belajar baru dan menunjukkan
hubungan antara apa yang akan dipelajari dengan konsep atau ide yang lebih
luas. Kedua, Discovery learning dari Bruner, yang menyarankan
pembelajaran dimulai dari penyajian masalah dari guru untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelidiki dan menentukan pemecahannya.
Ketiga, peristiwa-peristiwa belajar dari Gagne.
1. Belajar Bermakna dari Ausubel
Ausubel (1977) menyarankan penggunaan interaksi aktif antara guru
dengan siswa yang disebut belajar verbal yang bermakna (meaningful verbal
learning) atau disingkat belajar bermakna pembelajaran ini menekankan pada
ekspositori dengan cara, guru menyajikan materi secara eksplisit dan
terorganisasi. Dalam pembelajaran ini, siswa menerima serangkaian ide yang
disajikan guru dengan cara yang efisien.
Model Ausubel ini mengedepankan penalaran deduktif, yang
mengharuskan siswa pertama-tama mempelajari prinsip-prinsip, kemudian
belajar mengenal hal-hal khusus dari prinsip-prinsip tersebut. Pendekatan ini
mengasumsikan bahwa seseorang belajar dengan baik apabila memahami
konsep-konsep umum, maju secara deduktif dari aturan-aturan atau prinsip-
prinsip sampai pada contoh-contoh.
Pembelajaran bermakna dari Ausubel menitikberatkan interaksi verbal
yang dinamis antara guru dengan siswa. Guru memulai dengan suatu advance
organizer (pemandu awal), kemudian ke bagian-bagian pembelajaran,
selanjutnya mengembangkan serangkaian langkah yang digunakan guru
untuk mengajar dengan ekspositori.
2. Advance Organizer
Guru menggunakan advance organizer untuk mengaktifkan skemata
siswa (eksistensi pemahaman siswa), untuk mengetahui apa yang telah
dikenal siswa, dan untuk membantunya mengenal relevansi pengetahuan
yang telah dimiliki. Advance organizer memperkenalkan pengetahuan baru
secara umum yang dapat digunakan siswa sebagai kerangka untuk
memahami isi informasi baru secara rinci Anda dapat menggunakan advance
organizer untuk mengajar bidang studi apa pun.
3. Discovery Learning dari Bruner
Teori belajar penemuan (discovery) dari Bruner mengasumsikan bahwa
belajar paling baik apabila siswa menemukan sendiri informasi dan konsep-
konsep. Dalam belajar penemuan, siswa menggunakan penalaran induktif
untuk mendapatkan prinsip-prinsip, contoh-contoh. Misalnya, guru
menjelaskan kepada siswa tentang penemuan sinar lampu pijar, kamera, dan CD, serta perbandingan antara invention dengan discovery (misalnya, listrik,
nuklir, dan gravitasi). Siswa, kemudian menjabarkan sendiri apakah yang
dimaksud dengan invention dan bagaimana perbedaannya dengan discovery.
Dalam belajar penemuan, siswa “menemukan” konsep dasar atau
prinsip-prinsip dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang men-
demonstrasikan konsep tersebut. Bruner yakin bahwa siswa “memiliki”
pengetahuan apabila menemukan sendiri dan bertanggung jawab atas
kegiatan belajarnya sendiri, yang memotivasinya untuk belajar.
4. Peristiwa-peristiwa Belajar menurut Gagne
Gagne (dalam Gagne & Driscoll, 1988) mengembangkan suatu model
berdasarkan teori pemrosesan informasi yang memandang pembelajaran dari
segi 9 urutan peristiwa sebagai berikut.
a. Menarik perhatian siswa.
b. Mengemukakan tujuan pembelajaran.
c. Memunculkan pengetahuan awal.
d. Menyajikan bahan stimulasi.
e. Membimbing belajar.
f. Menerima respons siswa.
g. Memberikan balikan.
h. Menilai unjuk kerja.
i. Meningkatkan retensi dan transfer.
Nama: Bastiah
Nim: 11901121
Kelas: PAI 4D
Makul: Magang 1
Strategi Pembelajaran
Strategi adalah suatu seni merancang
operasi di dalam peperangan seperti
cara-cara mengatur posisi atau siasat
dalam berperang, seperti dalam angkatan
darat atau angkatan laut. Secara umum,
strategi merupakan suatu teknik yang
digunakan untuk mencapai suatu tujuan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
edisi kedua (1989), strategi adalah ilmu dan
seni menggunakan semua sumber daya
bangsa-bangsa untuk melaksanakan
kebijaksanaan tertentu dalam perang dan
damai. Menurut O’Malley dan Chamot
(1990), strategi adlah seperangkat alat yang
melibatkan individu secara langsung untuk
mengembangkan bahasa kedua atau bahasa
asing. Strategi sering dihubungkan dengan prestasi bahasa dan kecakapan dalam
menggunakan bahasa.
Untuk memahami makna strategi
secara lebih dalam, biasanya dikaitkan
dengan istilah pendekatan dan metode.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
(1995) Pendekatan adalah proses,
perbuatan, atau cara mendekati. Pendekatan
merupakan sikap atau pandangan tentang
sesuatu, yang biasanya berupa asumsi.
Metode adalah rencana keseluruhan bagi
penyajian bahan bahasa secara rapi dan
tertib. Sifat sebuah metode adalah
prosedural.
Strategi belajar dapat digambarkan
sebagai sifat dan tingkah laku. Oxford
mendefinisikan strategi belajar sebagai
tingkah laku yang dipakai oleh pembelajar
agar pembelajaran bahasa berhasil, terarah,
dan menyenangkan. Strategi belajar
mengacu pada perilaku dan proses berfikir
yang digunakan serta mempengaruhi apa
yang dipelajari. Strategi pembelajaran
bahasa adalah tindakan melaksanakan
rencana dengan menggunakan beberapa
variabel seperti tujuan, bahan, metode, dan
alat, serta evaluasi agar mencapai tujuan
yang telah ditetapkan.
Strategi belajar menurut Huda (1999),
antara lain:
1. Strategi Utama dan Strategi Pendukung.
Strategi utama dipakai secara langsung
dalam mencerna materi pembelajaran.
Strategi pendukung dipakai untuk
mengembangkan sikap belajar dan
membantu pembelajar dalam mengatasi
masalah seperti gangguan, kelelahan,
frustasi, dan lain sebagainya.
2. Strategi Kognitif dan Strategi
Metakognitif.
Strategi kognitif dipakai untuk
mengelola materi pembelajaran agar dapat diingat untuk jangka waktu yang
lama. Strategi metakognitif adalah
langkah yang dipakai untuk
mempertimbangkan proses kognitif,
seperti monitoring diri sendiri, dan
penguatan diri sendiri.
3. Strategi Sintaksis dan Strategi Semantik.
Strategi sintaksis adalah kata fungsi,
awalan, akhiran, dan penggolongan kata.
Strategi semantik adalah berhubungan
dengan objek nyata, situasi, dan
kejadian.
Strategi pembelajaran berdasarkan
klasifikasinya, sebagai berikut:
1. Penekanan Komponen dalam Program
Pengajaran
Komponen program pengajaran anatara lain
yang berpusat pada pengajar, peserta didik,
dan materi pengajaran. Berpusat pada
pengajar, pengajar menyampaikan
informasi kepada peserta didik. Teknik
penyajian adalah teknik ceramah, teknik
team teaching, teknik sumbang saran,
teknik demonstrasi, dan teknik antar
disiplin. Berpusat pada peserta didik,
strategi pembelajaran seperti ini
memberikan kesempatan seluas-luasnya
kepada peserta didik untuk aktif dan
berperan dalam kegiatan pembelajaran.
Dalam hal ini, pengajar berperan sebagai
fasilitator dan motivator. Teknik penyajian
adalah teknik diskusi, teknik kerja
kelompok, teknik penemuan, teknik
eksperimen, teknik kerja lapangan, dan
teknik penyajian kusus. Berpusat pada
materi pengajaran, materi terbagi dua yaitu
materi formal dan materi informal. Materi
formal adalah isi pelajaran yang terdapat
dalam buku-buku teks resmi disekolah,
sedangkan materi informal adalah bahan bahan pelajaran yang bersumber dari
lingkungan sekolah. Teknik penyajian
adalah tutorial, teknik modular, teknik
pengajaran terpadu, dan teknik demonstrasi.
2. Kegiatan Pengolahan Pesan atau Materi
Dibedakan menjadi dua, yaitu strategi
pembelajaran ekspositoris merupakan
strategi berbentuk penguraian, baik berupa
bahan tertulis maupun penjelasan secara
verbal. Strategi pembelajaran heuristik
adalah sebuah strategi yang menyiasati agar
aspek-aspek dari komponen-komponen
pembentuk sistem intruksional mengarah
kepada pengaktifan peserta didik untuk
mencari dan menemukan fakta, prinsip,
serta konsep yang mereka butuhkan.
3. Pengelohan Pesan atau Materi
Dibedakan menjadi dua, yaitu strategi
pembelajaran dedukasi adalah pesan diolah
mulai dari hal umum menuju kepada hal
khusus. Misalnya bila pengajaran tentang
kalimat tunggal, maka dimulai dengan
definisi kalimat tunggal, contoh-contoh
kalimat tunggal, dan dilanjutkan penjelasan
ciri-ciri kalimat tunggal. Sedangkan strategi
pembelajaran induksi adalah pesan diolah
mulai dari hal-hal yang khusus menuju
kepada konsep yang bersifat umum.
Misalnya bila pengajaran tentang kalimat
tunggal, maka dimulai dengan memberikan
contoh-contoh kalimat tunggal, ciri-ciri
kalimat tunggal sehingga peserta didik
dapat mendefinisikan sendiri tentang
kalimat tunggal.
4. Cara Memproses Penemuan
Dibedakan menjadi dua, yaitu strategi
pembelajaran ekspositoris merupakan
strategi berbentuk penguraian yang dapat
berupa bahan tertulis atau penjelasan
verbal. Strategi penemuan (discovery) adalah proses yang mampu
mengasimilasikan sebuah konsep atau
prinsip. Seperti mengamati, mencerna,
mengerti, menggolongkan, menduga,
menjelaskan, dan membuat kesimpulan.
Strategi Keterampilan Berbahasa
Bahasa dipergunakan sebagaian besar pada
aktivitas manusia. Semakin tinggi tingkat
penguasaan bahasa seseorang, semakin baik
pula penggunaan bahasa dalam
berkomunikasi. Penggunaan berbagai
teknik dan metode yang inovatif dapat
menciptakan situasi pembelajaran yang
kondusif. Melalui proses pembelajaran
yang dinamis, diharapkan akan tercipta
suatu bentuk komunikasi lisan yang terpola
melalui keterampilan menyimak, berbicara,
membaca, dan menulis.
1. Strategi Pembelajaran Keterampilan
Menyimak
Keterampilan menyimak adalah satu
bentuk keterampilan berbahasa yang
bersifat reseptif. Keterampilan
menyimak pada tahapan lebih tinggi
mampu menginformasikan kembali
pemahamannya malalui keterampilan
berbicara maupun menulis.
Strategi pembelajaran menyimak
sebagai berikut:
a. Pemberian informasi tertentu, dalam
hal ini peserta didik mendengarkan
sebuah informasi, dan melihat
demonstrasi serta mencatat.
b. Interaksi, dalam hal ini peserta didik
diberikan contoh lalu mencontohkan
dan mengulangi secara lebih kreatif
beserta tanya jawab.
c. Secara independen, peserta didik
melakukan kegiatan tertentu seperti,
menyimak rekaman berupa model, melakukan indentifikasi dan
klasifikasi dari suatu bentuk
interaksi/percakapan yang nyata.
Evaluasi kemampuan menyimak yaitu
tes melalui rekaman, tes dalam bentuk
tanya jawab, wawancara, menjawab isi
dialog, menjawab pertanyaan yang
berkenaan dengan drama yang baru
ditonton, dan bentuk tes lainnya.
2. Strategi Pembelajaran Keterampilan
Berbicara
Keterampilan berbicara merupakan
keterampilan memproduksi arus sistem
bunyi artikulasi untuk menyampaikan
kehendak, kebutuhan perasaan, dan
keinginan kepada orang lain.
Keterampilan berbicara diawali dengan
adanya pemahaman minimal dari
pembicara dalam membentuk sebuah
kalimat. Sebuah kalimat, betapapun
kecilnya, memiliki struktur dasar yang
saling berkaitan satu sama lain sehingga
mampu menyajikan sebuah makna.
Strategi pembelajaran berbicara merujuk
pada prinsip stimulus dan respon. Teknik
dalam strategi pembelajaran berbicara
antara lain:
a. Berbicara terpimpin meliputi frase
dan kalimat, dialog, dan pembacaan
puisi.
b. Berbicara semi-terpimpin meliputi
reproduksi cerita, cerita berantai,
menyusun kalimat dalam sebuah
pembicaraan, melaporkan isi bacaan
secara lisan.
c. Berbicara bebas meliputi diskusi,
drama, wawancara, berpidato, dan bermain peran.
3. Strategi Pembelajaran Keterampilan
Membaca
Keterampilan membaca memiliki
peranan penting dalam pengembangan
pengetahuan dan sebagai alat
komunikasi bagi kehidupan manusia.
Fakta di lapangan menunjukan bahwa
masyarakat di negara maju ditandai oleh
berkembangnya suatu kebiasaan
membaca yang tinggi. Membaca
merupakan suatu kegiatan untuk
mendapatkan makna dari apa yang
tertulis dalam teks. Pembelajaran
membaca harus memperhatikan cara
berfikir teratur dan baik. Membaca
melibatkan semua proses mental yang
lebih tinggi seperti ingatan, pemikiran,
daya khayal, pengaturan, penerapan, dan
pemecahan masalah.
Strategi pembelajaran membaca
adalah dengan menggunakan teknik
pemberian tugas membaca teks selama
waktu tertentu, kemudian mengajukan
pertanyaan. Tes kemampuan membaca
antara lain menggunakan bentuk btul-
salah, melengkapi kalimat, pilihan
ganda, dan pembuatan ringkasan atau
rangkuman. Selain itu, strategi lain untuk
meningkatkan keterampilan membaca
yakni dengan membaca karya sastra.
4. Strategi Pembelajaran Keterampilan
Menulis
Keterampilan menulis didasari oleh
penguasaan berbagai unsur kebahasaan
maupun unsur diluar bahasa yang akan
menjadi isi dalam tulisan. Keduanya
harus terjalin sehingga menghasilkan
tulisan yang runtun dan padu.
Keterampilan menulis merupakan suatu usaha untuk mengungkapkan pikiran dan
perasaan yang dilakukan secara tertulis.
Isi tulisan yang diungkapkan dapat
dipilih secara cermat dan disusun secara
sistematis agar dapat dipahami dengan
tepat. Tes keterampilan menulis adalah
dengan membuat karangan, dengan
kriteria penilaian sebagai berikut:
a. Kualitas dan ruang lingkup isi
b. Organisasi dan penyajian isi
c. Komposisi
d. Kohesi dan Koherensi
e. Gaya dan bentuk bahasa
f. Tata bahasa, ejaan, tanda baca
g. Kerapihan tulisan dan kebersihan
Keterampilan menulis melibatkan
unsur linguistik dan ekstralinguistik serta
memberikan kesempatan kepada peserta
didik untuk menggunakan bahasa secara
tepat dan memikirkan gagasan yang akan
dikemukakan.
TEORI YANG MELANDASI STRATEGI PEMBELAJARAN
Crowl, Kaminsky & Podell (1997) mengemukakan tiga pendekatan yang
mendasari pengembangan strategi pembelajaran. Pertama, Advance
Organizers dari Ausubel, yang merupakan pernyataan pengantar yang
membantu siswa mempersiapkan kegiatan belajar baru dan menunjukkan
hubungan antara apa yang akan dipelajari dengan konsep atau ide yang lebih
luas. Kedua, Discovery learning dari Bruner, yang menyarankan
pembelajaran dimulai dari penyajian masalah dari guru untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelidiki dan menentukan pemecahannya.
Ketiga, peristiwa-peristiwa belajar dari Gagne.
1. Belajar Bermakna dari Ausubel
Ausubel (1977) menyarankan penggunaan interaksi aktif antara guru
dengan siswa yang disebut belajar verbal yang bermakna (meaningful verbal
learning) atau disingkat belajar bermakna pembelajaran ini menekankan pada
ekspositori dengan cara, guru menyajikan materi secara eksplisit dan
terorganisasi. Dalam pembelajaran ini, siswa menerima serangkaian ide yang
disajikan guru dengan cara yang efisien.
Model Ausubel ini mengedepankan penalaran deduktif, yang
mengharuskan siswa pertama-tama mempelajari prinsip-prinsip, kemudian
belajar mengenal hal-hal khusus dari prinsip-prinsip tersebut. Pendekatan ini
mengasumsikan bahwa seseorang belajar dengan baik apabila memahami
konsep-konsep umum, maju secara deduktif dari aturan-aturan atau prinsip-
prinsip sampai pada contoh-contoh.
Pembelajaran bermakna dari Ausubel menitikberatkan interaksi verbal
yang dinamis antara guru dengan siswa. Guru memulai dengan suatu advance
organizer (pemandu awal), kemudian ke bagian-bagian pembelajaran,
selanjutnya mengembangkan serangkaian langkah yang digunakan guru
untuk mengajar dengan ekspositori.
2. Advance Organizer
Guru menggunakan advance organizer untuk mengaktifkan skemata
siswa (eksistensi pemahaman siswa), untuk mengetahui apa yang telah
dikenal siswa, dan untuk membantunya mengenal relevansi pengetahuan
yang telah dimiliki. Advance organizer memperkenalkan pengetahuan baru
secara umum yang dapat digunakan siswa sebagai kerangka untuk
memahami isi informasi baru secara rinci Anda dapat menggunakan advance
organizer untuk mengajar bidang studi apa pun.
3. Discovery Learning dari Bruner
Teori belajar penemuan (discovery) dari Bruner mengasumsikan bahwa
belajar paling baik apabila siswa menemukan sendiri informasi dan konsep-
konsep. Dalam belajar penemuan, siswa menggunakan penalaran induktif
untuk mendapatkan prinsip-prinsip, contoh-contoh. Misalnya, guru
menjelaskan kepada siswa tentang penemuan sinar lampu pijar, kamera, dan CD, serta perbandingan antara invention dengan discovery (misalnya, listrik,
nuklir, dan gravitasi). Siswa, kemudian menjabarkan sendiri apakah yang
dimaksud dengan invention dan bagaimana perbedaannya dengan discovery.
Dalam belajar penemuan, siswa “menemukan” konsep dasar atau
prinsip-prinsip dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang men-
demonstrasikan konsep tersebut. Bruner yakin bahwa siswa “memiliki”
pengetahuan apabila menemukan sendiri dan bertanggung jawab atas
kegiatan belajarnya sendiri, yang memotivasinya untuk belajar.
4. Peristiwa-peristiwa Belajar menurut Gagne
Gagne (dalam Gagne & Driscoll, 1988) mengembangkan suatu model
berdasarkan teori pemrosesan informasi yang memandang pembelajaran dari
segi 9 urutan peristiwa sebagai berikut.
a. Menarik perhatian siswa.
b. Mengemukakan tujuan pembelajaran.
c. Memunculkan pengetahuan awal.
d. Menyajikan bahan stimulasi.
e. Membimbing belajar.
f. Menerima respons siswa.
g. Memberikan balikan.
h. Menilai unjuk kerja.
i. Meningkatkan retensi dan transfer.