Senin, 12 Juli 2021

Magang 1, Karakteristik Peserta Didik

 Nama: Bastiah

Nim: 11901121

Kelas: PAI 4D

Makul: Magang 1


Karakteristik peserta didik

Pengertian Karakteristik Menurut Piuas Partanto, Dahlan (1994) 

Karakteristik berasal dari kata karakter dengan arti tabiat/watak, pembawaan atau 

kebiasaan yang dimiliki oleh individu yang relatif tetap. Menurut Moh. Uzer Usman 

(1989) Karakteristik adalah mengacu kepada karakter dan gaya hidup seseorang serta 

nilai-nilai yang berkembang secara teratur sehingga tingkah laku menjadi lebih 

konsisten dan mudah di perhatikan. Menurut Sudirman (1990) Karakteristik siswa adalah keseluruhan pola kelakuan dan kemampuan yang ada pada siswa sebagai hasil 

dari pembawaan dari lingkungan sosialnya sehingga menentukan pola aktivitas dalam 

meraih cita-citanya. Menurut Hamzah. B. Uno (2007) Karakteristik siswa adalah 

aspek-aspek atau kualitas perseorangan siswa yang terdiri dari minat, sikap, motivasi 

belajar, gaya belajar kemampuan berfikir, dan kemampuan awal yang dimiliki. Siswa 

atau anak didik adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari seseorang atau 

sekelompok orang yang menjalankan pendidikan. Anak didik adalah unsur penting 

dalam kegiatan interaksi edukatif karena sebagai pokok persoalan dalam semua 

aktifitas pembelajaran (Saiful Bahri Djamarah, 2000) B. Pentingnya Identifikasi 

Karakteristik Peserta Didik dalam Pembelajaran. Berdasarkan landasan yuridis dan 

teoritik, perlu dilakukan identifikasi karakteristik peserta didik. Pertama Peraturan 

pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan bahwa 

pengembangan pembelajaran dilakukan dengan memperhatikan; tuntutan, bakat, 

minat, kebutuhan, dan kepentingan siswa. Kedua secara teoretik siswa berbeda dalam 

banyak hal yang meliputi perbedaan fitrah individual disamping perbedaan latar 

belakang keluarga, sosial, budaya, ekonomi, dan lingkungan. Salah satu ciri kegiatan 

belajar mengajar adalah terjadinya interaksi antara guru dan siswa. Masing-masing 

memiliki tugas yang saling mendukung. Siswa bertugas untuk belajar dan guru 

bertugas mendampingi siswa dalam belajar. Dalam kegiatan belajar, siswa diharapkan 

mencapai tujuan pembelajaran tertentu yang meliputi tujuan umum dan tujuan 

khusus. Sesuai orientasi baru pendidikan, siswa menjadi pusat terjadinya proses 

belajar mengajar (student center), maka standar keberhasilan proses belajar mengajar 

itu bergantung kepada tingkat pencapaian pengetahuan, keterampilan dan afeksi oleh 

siswa. Oleh karenanya guru sebagai pendesain pembelajaran sudah seharusnya 

mempertimbangkan karakteristik siswa baik sebagai individu maupun kelompok. 

Setiap satuan kelas memiliki karakteristik yang berbeda. Heterogenitas kelas menjadi 

salah satu keniscayaan yang harus dihadapai guru. Sebagai pendesain pembelajaran 

guru harus menjadikan karakteristik siswa sebagai salah satu tolak ukur bagi 

perencaan dan pengelolaan proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar di 

sekolah dasar memiliki corak yang berbeda dengan proses belajar mengajar di sekolah 

menengah. Karakteristik siswa itu sesuai dengan tahap-tahap perkembangan siswa. 

Misalnya, keberhasilan dalam bidang akademik di sekolah dasar menjadi hal utama sebagai salah satu pencapaian keberhasilan seorang siswa, oleh karenanya 

penghargaan terhadap mereka yang memiliki kemampuan akademis tinggi akan 

sangat dirasakan. Sebaliknya bagi mereka yang duduk di bangku sekolah menengah, 

mulai memiliki pergesaran paradigma terhadap makna keberhasilan belajar. 

Perkembangan siswa akan berjalan lurus dengan kompleksitas masalah yang dihadapi 

oleh guru. Kenyataan lain yang juga harus dihadapi guru adalah meski mereka 

menghadapi kelompok kelas dengan umur yang relatif sama tetapi guru tidak bisa 

memperlakukan sama terhadap perbedaan karakteristik siswa. Setiap satuan kelas itu 

berbeda dalam hal motivasi belajar, kemampuan belajar, taraf pengetahuan, latar 

belakang, dan sosial ekonomi. Hal ini mengharuskan guru memperlakukan satuan 

kelas itu dengan pendekatan yang berbeda. Memahami heterogenitas siswa berarti 

menerima apa adanya mereka dan merencakan pembelajaran sesuai dengan 

keadaannya. Program pembelajaran di sekolah dasar akan berlangsung efektif jika 

sesuai dengan karakteristik siswa yang belajar. Smaldino dkk, mengemukakan empat 

faktor penting yang harus diperhatikan dalam menganalisis karakter siswa: 

(1) Karakteristik umum; 

(2) kompetensi atau kemampuan awal; 

(3) gaya belajar; 

(4) motivasi. 

Berkaitan dengan motivasi sangat diperlukan untuk memberi dorongan bagaimana 

siswa melakukan akativitas belajar agar menjadi kompeten dalam bidang yang 

dipelajari. Karekteristik Umum Karakteristik umum pada dasarnya menggambarkan 

tentang kondisi siswa seperti usia, kelas, pekerjaan, dan gender. Karakteristik siswa 

merujuk kepada ciri khusus yang dimiliki oleh siswa, dimana ciri tersebut dapat 

mempengaruhi tingkat keberhasilan pencapaian tujuan belajar. Karakteristik siswa 

merupakan ciri khusus yang dimiliki oleh masing-masing siswa baik sebagai individu 

atau kelompok sebagai pertimbangan dalam proses pengorganisasian pembelajaran. 

Winkel mengaitkan karakteristik siswa dengan penyebutan keadaan awal, dimana 

keadaan awal itu bukan hanya meliputi kenyataan pada masing-masing siswa 

melainkan pula kenyataan pada masing-masing guru. Cruickshank mengemukakan beberapa karakteristik umum siswa yang perlu mendapatkan perhatian dalam 

mendesain proses atau aktivitas pembelajaran, yaitu: 

(1) kondisi sosial ekonomi, 

(2) faktor budaya, 

(3) jenis kelamin, 

(4) partumbuhan, 

(5) gaya belajar dan 

(6) kemampuan belajar. 

Semua karakteristik yang bersifat umum perlu dipertimbangkan dalam menciptakan 

proses belajar yang dapat membantu individu mencapai kemampuan yang optimal. 

Analisis karakteristik awal siswa merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk 

memperoleh pemahaman tentang; tuntutan, bakat, minat, kebutuhan dan 

kepentingan siswa, berkaitan dengan suatu program pembelajaran tertentu. Tahapan 

ini dipandang begitu perlu mengingat banyak pertimbangan seperti; siswa, 

perkembangan sosial, budaya, ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta 

kepentingan program pendidikan/pembelajaran tertentu yang akan diikuti siswa.

Menurut Suparman ada dua pendekatan yang dapat dipilih. Pertama, siswa 

menyesuaikan dengan materi pelajaran dan kedua, sebaiknya materi pelajaran 

disesuaikan dengan siswa.

Pendekatan pertama, siswa menyesuaikan dengan materi pelajaran, dapat 

dilakukan sebagai berikut:

1. Seleksi Penerimaan Siswa 

a. Pada saat pendaftaran, siswa diwajibkan memiliki latar belakang pendidikan 

yang relevan dengan program pendidikan yang akan diambilnya;

b. Setelah memenuhi syarat-syarat pendaftaran di atas, siswa mengikuti tes 

masuk dalam pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan program 

pendidikan yang akan ditempuhnya. Proses seleksi ini sering dilakukan oleh 

lembaga-lembaga pendidikan formal seperti sekolah dalam menyeleksi calon siswa untuk memasuki sekolah-sekolah menengah negeri yang ingin memilih 

calon siswa yang baik.

2. Tes dan Pengelompokan Siswa 

Setelah melalui seleksi seperti dijelaskan dalam butir 1, masih ada kemungkinan 

pengajar menghadapi masalah heterogennya siswa yang mengambil mata 

pelajaran tertentu. Karena itu, perlu dilakukan tes sebelum mengikuti pelajaran 

untuk mengelompokkan siswa yang boleh mengikuti mata pelajaran tersebut. 

Selanjutnya atas dasar hasil tes setiap kelompok tersebut mengikuti tingkat 

pelajaran tertentu. Tes dan pengelompokan ini biasa dilakukan oleh lembaga-

lembaga pengelola kursus bahasa Inggris.

3. Lulus Mata Pelajaran Prasyarat

Alternatif lain untuk butir 2 di atas adalah mengharuskan siswa lulus mata 

pelajaran yang mempunyai prasyarat. Dalam suatu program pendidikan seperti di 

sekolah menengah pertama terdapat sebagian kecil mata pelajaran yang seperti 

itu.

Pendekatan kedua, materi pelajaran disesuaikan dengan siswa. Pendekatan ini 

hampir tidak memerlukan seleksi penerimaan siswa. Pada dasarnya, siapa saja boleh 

masuk dan mengikuti pelajaran tersebut.

KARAKTERISTIK AWAL 

Di samping mengidentifikasi perilaku awal siswa, pengembang instruksional harus 

pula mengidentifikasi karakteristik siswa yang berhubungan dengan keperluan pengembangan instruksional. Minat siswa pada umumnya, misalnya pada olah raga 

dan musik, karena sebagian besar siswa adalah penggemar musik, dapat dijadikan 

bahan dalam memberikan contoh dalam rangka penjelasan materi pelajaran. 

Kemampuan siswa yang kurang dalam membaca bahasa Inggris merupakan masukan 

pula bagi pengembang instruksional untuk memilih bahan-bahan pelajaran yang tidak 

berbahasa Inggris atau menerjemahkannya terlebih dahulu ke dalam bahasa 

Indonesia. Demikian pula bila siswa senang dengan humor. Pendesain instruksional 

sebaiknya mempertimbangkan penggunaan lelucon dalam strategi instruksionalnya. 

Bila siswa sebagian besar tidak mempunyai video di rumah, pendesain instruksional 

tidak dapat membuat program video untuk dipelajari siswa di rumah. Informasi di 

atas perlu dicari oleh pengembang instruksional sehingga ia dapat mengembangkan 

sistem instruksional yang sesuai dengan karakteristik siswa/siswa. Teknik yang dapat 

digunakan dalam mengidentifikasi karakteristik awal siswa sama dengan teknik yang 

digunakan untuk mengidentifikasi perilaku awal, yaitu kuesioner, interview, observasi 

dan tes.7 Seperti halnya dalam mencari informasi perilaku awal siswa, informasi yang 

dikumpulkan pendesain instruksional terbatas pada karakteristik siswa yang ada 

manfaatnya dalam proses pengembangan instruksional. Tujuan mengetahui 

karakteristik siswa adalah untuk mengukur, apakah siswa akan mampu mencapai 

tujuan belajarnya atau tidak; sampai di mana minat siswa terhadap pelajaran yang 

akan dipelajari. Bila siswa mampu, hal-hal apa yang memperkuat; dan bila tidak 

mampu hal-hal apa yang menjadi penghambat. Hal-hal yang perlu diketahui dari 

siswa bukan hanya dilihat faktor-faktor akademisnya, tetapi juga dilihat faktor-faktor 

sosialnya, sebab kedua hal tersebut sangat mempengaruhi proses belajar siswa/siswa. 

Hal-hal yang perlu diketahui tersebut adalah: 

1. Faktor-faktor akademis 

- Berapa jumlah siswa dalam satu kelas

- Apa latar belakang pendidikan (sekolah yang pernah ditempuh) 

- Bagaimana nilai rata-rata yang dicapai tiap sekolah/kursus/latihan yang pernah 

dialami - Apakah siswa mempunyai kebiasaan belajar sendiri 

- Bagaimana kebiasaan belajar siswa Apakah siswa sudah mengetahui sedikit tentang latar belakang pokok bahasan yang 

akan dipelajari

- Apakah tingkat intelegensi siswa tinggi, sedang atau rendah 

- Apakah siswa mampu membaca cepat - Apa saja yang dikuasai oleh siswa (student 

achievement)

- Bagaimana motivasi belajar siswa 

- Apakah yang menjadi harapan siswa setelah mempelajari pokok bahasan tersebut 

- Bagaimana aspirasi kebudayaan dan vokasional siswa. 

2. Faktor-faktor sosial 

- Umur 

- Kematangan

- Perhatian (minat) 

- Apakah ada siswa teladan dalam satu kelas 

- Apakah ada siswa yang cacat fisik 

- Bagaimana hubungan antarsiswa 

- Bagaimana latar belakang sosial-ekonomis.

3. Kondisi belajar Menurut Dunn & Dunn

kondisi belajar dapat mempengaruhi konsentrasi, penerapan dan penerimaan 

informasi. Pengaruh kondisi lingkungan tempat belajar terhadap seseorang dapat 

mengakibatkan reaksi yang berbeda-beda. Kita sering menyaksikan bahwa anak-anak 

muda lebih suka belajar sambil mendengarkan musik dari radio atau tape recorder di 

sampingnya, dengan volume yang cukup besar.


Jurnal Manajemen dan Ilmu Pendidikan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar