Nama: Bastiah
Nim: 11901121
Kelas: PAI 4D
Makul: Magang 1
Karakteristik peserta didik
Pengertian Karakteristik Menurut Piuas Partanto, Dahlan (1994)
Karakteristik berasal dari kata karakter dengan arti tabiat/watak, pembawaan atau
kebiasaan yang dimiliki oleh individu yang relatif tetap. Menurut Moh. Uzer Usman
(1989) Karakteristik adalah mengacu kepada karakter dan gaya hidup seseorang serta
nilai-nilai yang berkembang secara teratur sehingga tingkah laku menjadi lebih
konsisten dan mudah di perhatikan. Menurut Sudirman (1990) Karakteristik siswa adalah keseluruhan pola kelakuan dan kemampuan yang ada pada siswa sebagai hasil
dari pembawaan dari lingkungan sosialnya sehingga menentukan pola aktivitas dalam
meraih cita-citanya. Menurut Hamzah. B. Uno (2007) Karakteristik siswa adalah
aspek-aspek atau kualitas perseorangan siswa yang terdiri dari minat, sikap, motivasi
belajar, gaya belajar kemampuan berfikir, dan kemampuan awal yang dimiliki. Siswa
atau anak didik adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari seseorang atau
sekelompok orang yang menjalankan pendidikan. Anak didik adalah unsur penting
dalam kegiatan interaksi edukatif karena sebagai pokok persoalan dalam semua
aktifitas pembelajaran (Saiful Bahri Djamarah, 2000) B. Pentingnya Identifikasi
Karakteristik Peserta Didik dalam Pembelajaran. Berdasarkan landasan yuridis dan
teoritik, perlu dilakukan identifikasi karakteristik peserta didik. Pertama Peraturan
pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan bahwa
pengembangan pembelajaran dilakukan dengan memperhatikan; tuntutan, bakat,
minat, kebutuhan, dan kepentingan siswa. Kedua secara teoretik siswa berbeda dalam
banyak hal yang meliputi perbedaan fitrah individual disamping perbedaan latar
belakang keluarga, sosial, budaya, ekonomi, dan lingkungan. Salah satu ciri kegiatan
belajar mengajar adalah terjadinya interaksi antara guru dan siswa. Masing-masing
memiliki tugas yang saling mendukung. Siswa bertugas untuk belajar dan guru
bertugas mendampingi siswa dalam belajar. Dalam kegiatan belajar, siswa diharapkan
mencapai tujuan pembelajaran tertentu yang meliputi tujuan umum dan tujuan
khusus. Sesuai orientasi baru pendidikan, siswa menjadi pusat terjadinya proses
belajar mengajar (student center), maka standar keberhasilan proses belajar mengajar
itu bergantung kepada tingkat pencapaian pengetahuan, keterampilan dan afeksi oleh
siswa. Oleh karenanya guru sebagai pendesain pembelajaran sudah seharusnya
mempertimbangkan karakteristik siswa baik sebagai individu maupun kelompok.
Setiap satuan kelas memiliki karakteristik yang berbeda. Heterogenitas kelas menjadi
salah satu keniscayaan yang harus dihadapai guru. Sebagai pendesain pembelajaran
guru harus menjadikan karakteristik siswa sebagai salah satu tolak ukur bagi
perencaan dan pengelolaan proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar di
sekolah dasar memiliki corak yang berbeda dengan proses belajar mengajar di sekolah
menengah. Karakteristik siswa itu sesuai dengan tahap-tahap perkembangan siswa.
Misalnya, keberhasilan dalam bidang akademik di sekolah dasar menjadi hal utama sebagai salah satu pencapaian keberhasilan seorang siswa, oleh karenanya
penghargaan terhadap mereka yang memiliki kemampuan akademis tinggi akan
sangat dirasakan. Sebaliknya bagi mereka yang duduk di bangku sekolah menengah,
mulai memiliki pergesaran paradigma terhadap makna keberhasilan belajar.
Perkembangan siswa akan berjalan lurus dengan kompleksitas masalah yang dihadapi
oleh guru. Kenyataan lain yang juga harus dihadapi guru adalah meski mereka
menghadapi kelompok kelas dengan umur yang relatif sama tetapi guru tidak bisa
memperlakukan sama terhadap perbedaan karakteristik siswa. Setiap satuan kelas itu
berbeda dalam hal motivasi belajar, kemampuan belajar, taraf pengetahuan, latar
belakang, dan sosial ekonomi. Hal ini mengharuskan guru memperlakukan satuan
kelas itu dengan pendekatan yang berbeda. Memahami heterogenitas siswa berarti
menerima apa adanya mereka dan merencakan pembelajaran sesuai dengan
keadaannya. Program pembelajaran di sekolah dasar akan berlangsung efektif jika
sesuai dengan karakteristik siswa yang belajar. Smaldino dkk, mengemukakan empat
faktor penting yang harus diperhatikan dalam menganalisis karakter siswa:
(1) Karakteristik umum;
(2) kompetensi atau kemampuan awal;
(3) gaya belajar;
(4) motivasi.
Berkaitan dengan motivasi sangat diperlukan untuk memberi dorongan bagaimana
siswa melakukan akativitas belajar agar menjadi kompeten dalam bidang yang
dipelajari. Karekteristik Umum Karakteristik umum pada dasarnya menggambarkan
tentang kondisi siswa seperti usia, kelas, pekerjaan, dan gender. Karakteristik siswa
merujuk kepada ciri khusus yang dimiliki oleh siswa, dimana ciri tersebut dapat
mempengaruhi tingkat keberhasilan pencapaian tujuan belajar. Karakteristik siswa
merupakan ciri khusus yang dimiliki oleh masing-masing siswa baik sebagai individu
atau kelompok sebagai pertimbangan dalam proses pengorganisasian pembelajaran.
Winkel mengaitkan karakteristik siswa dengan penyebutan keadaan awal, dimana
keadaan awal itu bukan hanya meliputi kenyataan pada masing-masing siswa
melainkan pula kenyataan pada masing-masing guru. Cruickshank mengemukakan beberapa karakteristik umum siswa yang perlu mendapatkan perhatian dalam
mendesain proses atau aktivitas pembelajaran, yaitu:
(1) kondisi sosial ekonomi,
(2) faktor budaya,
(3) jenis kelamin,
(4) partumbuhan,
(5) gaya belajar dan
(6) kemampuan belajar.
Semua karakteristik yang bersifat umum perlu dipertimbangkan dalam menciptakan
proses belajar yang dapat membantu individu mencapai kemampuan yang optimal.
Analisis karakteristik awal siswa merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk
memperoleh pemahaman tentang; tuntutan, bakat, minat, kebutuhan dan
kepentingan siswa, berkaitan dengan suatu program pembelajaran tertentu. Tahapan
ini dipandang begitu perlu mengingat banyak pertimbangan seperti; siswa,
perkembangan sosial, budaya, ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta
kepentingan program pendidikan/pembelajaran tertentu yang akan diikuti siswa.
Menurut Suparman ada dua pendekatan yang dapat dipilih. Pertama, siswa
menyesuaikan dengan materi pelajaran dan kedua, sebaiknya materi pelajaran
disesuaikan dengan siswa.
Pendekatan pertama, siswa menyesuaikan dengan materi pelajaran, dapat
dilakukan sebagai berikut:
1. Seleksi Penerimaan Siswa
a. Pada saat pendaftaran, siswa diwajibkan memiliki latar belakang pendidikan
yang relevan dengan program pendidikan yang akan diambilnya;
b. Setelah memenuhi syarat-syarat pendaftaran di atas, siswa mengikuti tes
masuk dalam pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan program
pendidikan yang akan ditempuhnya. Proses seleksi ini sering dilakukan oleh
lembaga-lembaga pendidikan formal seperti sekolah dalam menyeleksi calon siswa untuk memasuki sekolah-sekolah menengah negeri yang ingin memilih
calon siswa yang baik.
2. Tes dan Pengelompokan Siswa
Setelah melalui seleksi seperti dijelaskan dalam butir 1, masih ada kemungkinan
pengajar menghadapi masalah heterogennya siswa yang mengambil mata
pelajaran tertentu. Karena itu, perlu dilakukan tes sebelum mengikuti pelajaran
untuk mengelompokkan siswa yang boleh mengikuti mata pelajaran tersebut.
Selanjutnya atas dasar hasil tes setiap kelompok tersebut mengikuti tingkat
pelajaran tertentu. Tes dan pengelompokan ini biasa dilakukan oleh lembaga-
lembaga pengelola kursus bahasa Inggris.
3. Lulus Mata Pelajaran Prasyarat
Alternatif lain untuk butir 2 di atas adalah mengharuskan siswa lulus mata
pelajaran yang mempunyai prasyarat. Dalam suatu program pendidikan seperti di
sekolah menengah pertama terdapat sebagian kecil mata pelajaran yang seperti
itu.
Pendekatan kedua, materi pelajaran disesuaikan dengan siswa. Pendekatan ini
hampir tidak memerlukan seleksi penerimaan siswa. Pada dasarnya, siapa saja boleh
masuk dan mengikuti pelajaran tersebut.
KARAKTERISTIK AWAL
Di samping mengidentifikasi perilaku awal siswa, pengembang instruksional harus
pula mengidentifikasi karakteristik siswa yang berhubungan dengan keperluan pengembangan instruksional. Minat siswa pada umumnya, misalnya pada olah raga
dan musik, karena sebagian besar siswa adalah penggemar musik, dapat dijadikan
bahan dalam memberikan contoh dalam rangka penjelasan materi pelajaran.
Kemampuan siswa yang kurang dalam membaca bahasa Inggris merupakan masukan
pula bagi pengembang instruksional untuk memilih bahan-bahan pelajaran yang tidak
berbahasa Inggris atau menerjemahkannya terlebih dahulu ke dalam bahasa
Indonesia. Demikian pula bila siswa senang dengan humor. Pendesain instruksional
sebaiknya mempertimbangkan penggunaan lelucon dalam strategi instruksionalnya.
Bila siswa sebagian besar tidak mempunyai video di rumah, pendesain instruksional
tidak dapat membuat program video untuk dipelajari siswa di rumah. Informasi di
atas perlu dicari oleh pengembang instruksional sehingga ia dapat mengembangkan
sistem instruksional yang sesuai dengan karakteristik siswa/siswa. Teknik yang dapat
digunakan dalam mengidentifikasi karakteristik awal siswa sama dengan teknik yang
digunakan untuk mengidentifikasi perilaku awal, yaitu kuesioner, interview, observasi
dan tes.7 Seperti halnya dalam mencari informasi perilaku awal siswa, informasi yang
dikumpulkan pendesain instruksional terbatas pada karakteristik siswa yang ada
manfaatnya dalam proses pengembangan instruksional. Tujuan mengetahui
karakteristik siswa adalah untuk mengukur, apakah siswa akan mampu mencapai
tujuan belajarnya atau tidak; sampai di mana minat siswa terhadap pelajaran yang
akan dipelajari. Bila siswa mampu, hal-hal apa yang memperkuat; dan bila tidak
mampu hal-hal apa yang menjadi penghambat. Hal-hal yang perlu diketahui dari
siswa bukan hanya dilihat faktor-faktor akademisnya, tetapi juga dilihat faktor-faktor
sosialnya, sebab kedua hal tersebut sangat mempengaruhi proses belajar siswa/siswa.
Hal-hal yang perlu diketahui tersebut adalah:
1. Faktor-faktor akademis
- Berapa jumlah siswa dalam satu kelas
- Apa latar belakang pendidikan (sekolah yang pernah ditempuh)
- Bagaimana nilai rata-rata yang dicapai tiap sekolah/kursus/latihan yang pernah
dialami - Apakah siswa mempunyai kebiasaan belajar sendiri
- Bagaimana kebiasaan belajar siswa Apakah siswa sudah mengetahui sedikit tentang latar belakang pokok bahasan yang
akan dipelajari
- Apakah tingkat intelegensi siswa tinggi, sedang atau rendah
- Apakah siswa mampu membaca cepat - Apa saja yang dikuasai oleh siswa (student
achievement)
- Bagaimana motivasi belajar siswa
- Apakah yang menjadi harapan siswa setelah mempelajari pokok bahasan tersebut
- Bagaimana aspirasi kebudayaan dan vokasional siswa.
2. Faktor-faktor sosial
- Umur
- Kematangan
- Perhatian (minat)
- Apakah ada siswa teladan dalam satu kelas
- Apakah ada siswa yang cacat fisik
- Bagaimana hubungan antarsiswa
- Bagaimana latar belakang sosial-ekonomis.
3. Kondisi belajar Menurut Dunn & Dunn
kondisi belajar dapat mempengaruhi konsentrasi, penerapan dan penerimaan
informasi. Pengaruh kondisi lingkungan tempat belajar terhadap seseorang dapat
mengakibatkan reaksi yang berbeda-beda. Kita sering menyaksikan bahwa anak-anak
muda lebih suka belajar sambil mendengarkan musik dari radio atau tape recorder di
sampingnya, dengan volume yang cukup besar.
Jurnal Manajemen dan Ilmu Pendidikan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar