Defenisi Operasional
1. Perangkat pembelajaran adalah
sekumpulan sumber belajar sebagai alat
pendukung yang memungkinkan siswa
dan guru melakukan kegiatan
pembelajaran. Perangkat pembelajaran
yang dimaksud berupa: Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP),
Lembar Kerja Siswa (LKS), buku guru
dan buku siswa, dan tes kemampuan
belajar.
2. Pengembangan perangkat pembelajaran
adalah proses untuk menghasilkan
produk perangkat pembelajaran yang
baik, sesuai dengan langkah-langkah
pada model pengembangan yang
digunakan yaitu model pengembangan
pembelajaran Thiagarajan (model 4D:
define, design, development, dan
disseminate). Perangkat pembelajaran
yang dikatakan baik apabila tim
validator (ahli dan praktisi) menyatakan
perangkat yang dikembangkan valid
(didasarkan pada rasional teoritik yang
kuat dan terdapat konsistensi di antara
komponen-komponen perangkat secara
internal), dan dalam pelaksanaan uji
coba perangkat memenuhi syarat-syarat
tertentu yaitu: (a) aktifitas siswa selama
pembelajaran sesuai dengan batas
toleransi waktu ideal; (b) siswa
memberikan respon yang positif
terhadap komponen-komponen
perangkat pembelajaran; serta (c) tes
hasil belajar valid.
3. Ukuran keefektifan perangkat
pembelajaran yang dikembangkan
berdasarkan kriteria: i) 80% siswa yang
mengikuti tes kemampuan matematis
berkemampuan minimal sedang, ii)
aktivitas siswa selama kegiatan belajar
memenuhi kriteria waktu ideal yang
ditetapkan, iii) 80% siswa memberikan
respon yang positip terhadap komponen-
komponen perangkat pembelajaran dan
kegiatan pembelajaran. Pembelajaran
dikatakan efektif jika ketiga indikator
tersebut terpenuhi.Tujuan akan tercapai
jika siswa aktif membangun
pengetahuannya dalam pembelajaran.
Dengan demikian keefektifan juga
dipengaruhi oleh aktifitas, siswa secara
aktif dilibatkan dalam pengorganisasian,
penemuan informasi atau pengetahuan,
dan keterkaitan informasi yang
diberikan.
4. Pendekatan saintifik adalah pendekatan
berbasis proses keilmuan, berdasarkan
langkah-langkah yaitu: (1) mengamati,
(2) menanya, (3) mengumpulkan
informasi/eksperimen, (4)
mengasosiasikan informasi, (5)
mengkomunikasikan dan (6) membentuk
jejaring
5. Aktivitas siswa adalah kegiatan yang ,dilakukan siswa selama proses
pembelajaran, meliputi: mendengarkan/m
emperhatikan penjelasan guru/teman, me
mbaca/memahami masalah,
menyelesaikan masalah/menemukan cara
dan jawaban masalah ,
berdiskusi/bertanya kepada teman/guru,
menarik kesimpulan suatu konsep atau
prosedur dan perilaku yang tidak relevan
dengan pembelajaran seperti : percakapan
diluar pelajaran, berjalan-jalan diluar
kelompok, mengerjakan sesuatu topik
diluar pembelajaran, dan lain-lain.
6. Respon siswa adalah pendapat senang-
tidak senang, baru-tidak baru, terhadap
komponen dan kegiatan pembelajaran,
siswa berminat mengikuti pembelajaran
pada kegiatan pembelajaran berikutnya,
komentar siswa terhadap keterbacaan
(buku siswa dan tes hasil belajar) dan
penggunaan bahasa, dan penampilan guru
dalam pelaksanaan pembelajaran.
7. Kemampuan komunikasi matematis pada
pembelajaran matematika dilihat dari :
(1) Kemampuan mengekspresikan ide-ide
matematika melalui lisan, tertulis, dan
mendemonstrasikannya serta
menggambarkannya secara visual; (2)
Kemampuan memahami,
menginterpretasikan, dan mengevaluasi
ide-ide Matematika baik secara lisan
maupun dalam bentuk visual lainnya; (3)
Kemampuan dalam menggunakan istilah-
istilah, notasi-notasi Matematika dan
struktur-strukturnya untuk menyajikan
ide, menggambarkan hubungan-
hubungan dan model-model situasi.
8. Persamaan linier satu variabel adalah
kalimat terbuka yang dihubungkan oleh
tanda sama dengan (=) dan hanya
mempunyai satu variabel berpangkat
satu. Bentuk umum persamaan linier satu
variabel adalah ax + b = 0 dengan a ≠
0.Pertidaksamaan linier satu variabel
adalah kalimat terbuka yang yang
dihubungkan oleh tanda ketidaksamaan
(, ≤ , atau ≥ ) dan hanya mempunyai
satu variabel dan berpangkat satu. Defenisi Pendekatan Saintifik
Adapun defenisi pendekatan saintifikdari para
ahli yaitu :
Menurut Lazim (2013:1) “pendekatan
saintifik adalah konsep dasar yang
mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan
melatari pemikiran tentang bagaimana
metode pembelajaran diterapkan berdasarkan
teori tertentu.
Menurut Hosnan (2014:34) “pendekatan
saintifikdimaksudkan untuk memberikan
pemahaman kepada peserta didik dalam
mengenal, memahami berbagai materi,
menggunakan pendekatan ilmiah tidak
bergantung pada informasi searah dari guru.
Langkah-langkah pembelajaran yang
mengacu pada pendekatan saintifik harus
menyentuh tiga ranah, yaitu sikap,
pengetahuan, dan keterampilan.
Penulis menyikapi defenisi tersebut bahwa
hasil akhirnya adalah peningkatan dan
keseimbangan antara kemampuan untuk
menjadi manusia yang baik (soft skills)
dengan manusia yang memiliki kecakapan
dan pengetahuan untuk hidup secara layak
(hard skills) dari peserta didik yang meliputi
aspek kompetensi sikap, pengetahuan, dan
keterampilan. Pada intinya, hasil belajar
melahirkan peserta didik yang produktif,
kreatif, inovatif, dan afektif melalui
penguatan sikap, keterampilan, dan
pengetahuan yang terintegrasi. penulis
mengkaji langkah-langkah pendekatan
saintifik sebagai berikut:
1. Mengamati.
Pada langkah ini, kegiatan siswa dapat berupa
membaca buku, mendengar cerita, baik cerita
dalam bentuk sumber langsung maupun
mendengar dongeng dan menyimak atau
melihat fenomena atau situasi tanpa atau
dengan alat. Sedangkan kompetensi yang
dapat dikembangkan oleh guru dalam
pembelajaran adalah dengan cara guru
melatih kesungguhan siswa, ketelitian siswa
dan mambantu siswa dalam mencari
informasi yang dibutuhkan.
2. Menanya.
Pada langkah ini, kegiatan siswa adalah
banyak melakukan pertanyaan-pertanyaan
yang tentunya mengenai informasi yang
belum dipahami dari apa yang sudah diamati
siswa. selain itu, pertanyaan itu dapat
disampaikan berupa informasi tambahan
tentang apa yang diamatinya. dari pertanyaan
yang sifatnya faktual hingga yang bersifat
hipotetik atau dugaan atau jawaban
sementara. Kompetensi yang dapat
dikembangkan adalah guru mendorong dalam
mengembangkan kreativitas siswa, memiliki
rasa keinginan tahuan, kemampuan dalam
merumuskan pertanyaan untuk membentuk
pikiran kritis demi keperluan hidup siswa
cerdas dan belajar sepanjang hayat.
3. Mengumpulkan informasi/eksperimen.
Pada langkah ini, guru membimbing siswa
dalam melakukan eksperimen, membantu
siswa dalam mencari dan mengolah sumber
belajar yang lain yang relevan baik dari buku
teks maupun Buku Sekolah Elektronik (BSE),
mengajak siswa mengamati objek, kejadian,
peristiwa, fenomena yang terjadi pada mata
pelajaran yang dipelajari saat itu. Kompetensi
yang dikembangkan guru dalam hal ini
adalah mengembangkan sikap ketelitian pada
siswa, mengajarkan berperilaku jujur,
mengajarkan untuk menghargai pendapat
orang lain, mengolah dan menyusun
kemampuan dalam berkomunikasi,
menerapkan kemampuan dalam
mengumpulkan informasi melalui berbagai
cara yang dapat dipelajari siswa,
membimbing siswa dalam mengembangkan
kebiasaan belajar dan belajar sepanjang
hayat.
4. Mengasosiasikan/mengolah informasi.
Pada langkah ini, guru mengarahkan siswa
untuk dapat mengolah informasi yang sudah diperoleh dari hasil eksperimen siswa atau
hasil dari kegiatan siswa dalam
mengumpulkan informasi, mengolah
informasi yang dihimpun atau bahkan
menambah informasi yang didapat dengan
mengolah informasi tersebut dengan
membandingkan dari hasil pendapat orang
lain baik bertentangan maupun yang berbeda
pendapat dengan maksud untuk mencari
solusi dan kebenaran. Kompetensi yang
dikembangkan guru dalam hal ini adalah
mengembangkan sikap jujur kepada siswa,
ketelitian, disiplin, taat pada aturan, bekerja
keras, mengarahkan siswa untuk mampu
menerapkan prosedur dan kemampuan
berpikir induktif serta penarapan deduktif
dalam menyimpulkan dugaan
sementara/hipotesis.
5. Mengkomunikasikan
Pada langkah ini, siswa mengkomunikasikan
hasil eksperimen dan informasi yang
diperoleh dengan menyampaikan hasil
pengamatannya berdasarkan atas kesimpulan
hasil analisisnya baik secara lisan, tulisan
maupun media lainnya. Kompetensi yang
harus dikembangakanguru kepada siswa
adalah dengan mengembangkan sikap jujur
pada siswa, teliti, toleransi antar sesama,
mengajarkan siswa untuk mampu berpikir
sistematis, mengungkapkan
gagasan/ide/pendapatnya dengan penjelasan
yang singkat dan jelas, serta mengembangkan
kemampuan berbahasa indonesia yang baik
dan benar.
Pembelajaran berbasis pendekatan
ilmiah (saintifik) itu lebih efektif hasilnya
dibandingkan dengan pembelajaran
tradisional. Hasil penelitian membuktikan
bahwa pada pembelajaran tradisional, retensi
informasi dari guru sebesar 10% setelah 15
menit dan perolehan pemahaman kontekstual
sebesar 25%. Pada pembelajaran berbasis
pendekatan saintifik, retensi informasi dari
guru sebesar lebih dari 90% setelah dua hari
dan perolehan pemahaman kontekstual
sebesar 50%-70%. Proses pembelajaran
dengan berbasis pendekatan saintifik harus
dipandu dengan kaidah-kaidah pendekatan
ilmiah. Pendekatan ini bercirikan penonjolan
dimensi pengamatan, penalaran, penemuan,
pengabsahan, dan penjelasan tentang suatu
kebenaran. Dengan demikian, proses
pembelajaran harus dilaksanakan dengan
dipandu nilai-nilai, prinsip-prinsip, atau
kriteria ilmiah (Hosnan, 2014:7)
Kriteria Pendekatan Saintifik
1. Substansi atau materi pembelajaran
berbasis pada fakta atau fenomena yang
dapat dijelaskan dengan logika atau
penalaran tertentu; bukan sebatas kira-
kira, khayalan, legenda, atau dongeng
semata.
2. Penjelasan guru, respon peserta didik,
dan interaksi edukatif guru-peserta didik
terbebas dari prasangka yang serta-merta,
pemikiran subjektif, atau penalaran yang
menyimpang dari alur berpikir logis.
3. Mendorong dan menginspirasi peserta
didik berpikir secara kritis, analitis, dan
tepat dalam mengidentifikasi,
memahami, memecahkan masalah, dan
mengaplikasikan substansi atau materi
pembelajaran.
4. Mendorong dan menginspirasi peserta
didik mampu berpikir hipotetik dalam
melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan
satu dengan yang lain dari substansi atau
materi pembelajaran.
5. Mendorong dan menginspirasi peserta
didik mampu memahami, menerapkan,
dan mengembangkan pola berpikir yang
rasional dan objektif dalam merespon
substansi atau materi pembelajaran. 6. Berbasis pada konsep, teori, dan fakta
empiris yang dapat
dipertanggungjawabkan.
7. Tujuan pembelajaran dirumuskan secara
sederhana, jelas, dan menarik sistem
penyajiannya.
Keunggulan Pendekatan Saintifik
1. Siswa harus aktif dan kreatif
Tak seperti kurikulum sebelumya materi di
kurikulum terbaru ini lebih ke pemecahan
masalah. Jadi siswa untuk aktif mencari
informasi agar tidak ketinggalan materi ajar.
2. Penilaian di dapat dari semua aspek.
Pengambilan nilai siswa bukan hanya di dapat
dari nilai ujianya saja tetapi juga di dapat dari
nilai kesopanan, religi, praktek, sikap dan lain
lain.
Model pengembangan 4D
Model pengembangan 4D ini meliputi
tahap pendefinisian (define), tahap
perancangan (design), tahap pengembangan
(development), dan tahap penyebaran
(disseminate).
Define: Tujuan dari tahap ini adalah
menetapkan dan mendefinisikan
syarat-syarat pembelajaran diawali
dengan analisis tujuan dari batasan
materi yang dikembangkan
perangkatnya. Dalam tahap ini
meliputi lima langkah pokok, yaitu
analisis kebutuhan, analisis siswa,
analisis tugas, analisis konsep, dan
spesifikasi indikator pembelajaran.
Design:Tujuan dari tahap ini adalah
menyiapkan rancangan perangkat
pembelajaran. Tahap ini terdiri dari
tiga langkah pokok, yaitu
penyusunan tes, pemilihan media,
dan pemilihan format perangkat
pembelajaran. Development: Tujuan tahap ini adalah untuk
menghasilkan perangkat
pembelajaran yang sudah direvisi
berdasarkan masukan dari pakar
dan hasil uji coba lapangan. Tahap
ini meliputi validasi perangkat oleh
ahli, revisi, dan uji coba kepada
siswa.
Disseminate: Tahap ini merupakan tahap
penggunaan perangkat yang telah
dikembangkan pada skala yang lebih luas
misalnya di kelas lain, di sekolah lain, oleh
guru yang lain. Tujuan lain adalah untuk
menguji efektivitas penggunaan perangkat
pembelajaran.
Kemampuan Komunikasi Matematis
Komunikasi secara umum dapat
diartikan sebagai suatu cara untuk
menyampaikan suatu pesan dari pembawa
pesan ke penerima pesan untuk memberitahu,
pendapat, atau perilaku baik langsung secara
lisan, maupun tak langsung melalui media. Di
dalam berkomunikasi tersebut harus
dipikirkan bagaimana caranya agar pesan
yang disampaikan seseorang itu dapat
dipahami oleh orang lain. Untuk
mengembangkan kemampuan berkomunikasi,
orang dapat menyampaikan dengan berbagai
bahasa termasuk bahasa matematis. Poyla
(Ruseffendi 1991:177) menyatakan bahwa
“Untuk mengetahui apakah seorang siswa
mengerti persoalan siswa dapat menuliskan
kembali soal itu dengan kata-katanya sendiri,
menulis soal itu dengan bentuk lain, menulis
dalam bentuk yang lebih operasional, menulis
dalam bentuk rumus, menyatakan soal itu
dalam bentuk gambar”.
Jurnal Inspirasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar