Selasa, 13 Juli 2021

Magang 1, Perangkat pembelajaran

 Defenisi Operasional

1. Perangkat pembelajaran adalah

sekumpulan sumber belajar sebagai alat 

pendukung yang memungkinkan siswa 

dan guru melakukan kegiatan 

pembelajaran. Perangkat pembelajaran 

yang dimaksud berupa: Rencana 

Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), 

Lembar Kerja Siswa (LKS), buku guru 

dan buku siswa, dan tes kemampuan 

belajar.

2. Pengembangan perangkat pembelajaran 

adalah proses untuk menghasilkan 

produk perangkat pembelajaran yang 

baik, sesuai dengan langkah-langkah 

pada model pengembangan yang 

digunakan yaitu model pengembangan 

pembelajaran Thiagarajan (model 4D: 

define, design, development, dan 

disseminate). Perangkat pembelajaran 

yang dikatakan baik apabila tim 

validator (ahli dan praktisi) menyatakan 

perangkat yang dikembangkan valid 

(didasarkan pada rasional teoritik yang 

kuat dan terdapat konsistensi di antara 

komponen-komponen perangkat secara 

internal), dan dalam pelaksanaan uji 

coba perangkat memenuhi syarat-syarat 

tertentu yaitu: (a) aktifitas siswa selama 

pembelajaran sesuai dengan batas 

toleransi waktu ideal; (b) siswa 

memberikan respon yang positif 

terhadap komponen-komponen 

perangkat pembelajaran; serta (c) tes 

hasil belajar valid.

3. Ukuran keefektifan perangkat 

pembelajaran yang dikembangkan 

berdasarkan kriteria: i) 80% siswa yang 

mengikuti tes kemampuan matematis 

berkemampuan minimal sedang, ii) 

aktivitas siswa selama kegiatan belajar 

memenuhi kriteria waktu ideal yang 

ditetapkan, iii) 80% siswa memberikan 

respon yang positip terhadap komponen-

komponen perangkat pembelajaran dan 

kegiatan pembelajaran. Pembelajaran 

dikatakan efektif jika ketiga indikator 

tersebut terpenuhi.Tujuan akan tercapai 

jika siswa aktif membangun 

pengetahuannya dalam pembelajaran. 

Dengan demikian keefektifan juga 

dipengaruhi oleh aktifitas, siswa secara 

aktif dilibatkan dalam pengorganisasian, 

penemuan informasi atau pengetahuan, 

dan keterkaitan informasi yang 

diberikan.

4. Pendekatan saintifik adalah pendekatan 

berbasis proses keilmuan, berdasarkan 

langkah-langkah yaitu: (1) mengamati, 

(2) menanya, (3) mengumpulkan 

informasi/eksperimen, (4) 

mengasosiasikan informasi, (5) 

mengkomunikasikan dan (6) membentuk 

jejaring

5. Aktivitas siswa adalah kegiatan yang ,dilakukan siswa selama proses 

pembelajaran, meliputi: mendengarkan/m

emperhatikan penjelasan guru/teman, me

mbaca/memahami masalah, 

menyelesaikan masalah/menemukan cara 

dan jawaban masalah , 

berdiskusi/bertanya kepada teman/guru, 

menarik kesimpulan suatu konsep atau 

prosedur dan perilaku yang tidak relevan 

dengan pembelajaran seperti : percakapan 

diluar pelajaran, berjalan-jalan diluar 

kelompok, mengerjakan sesuatu topik 

diluar pembelajaran, dan lain-lain.

6. Respon siswa adalah pendapat senang-

tidak senang, baru-tidak baru, terhadap 

komponen dan kegiatan pembelajaran, 

siswa berminat mengikuti pembelajaran 

pada kegiatan pembelajaran berikutnya, 

komentar siswa terhadap keterbacaan 

(buku siswa dan tes hasil belajar) dan 

penggunaan bahasa, dan penampilan guru 

dalam pelaksanaan pembelajaran.

7. Kemampuan komunikasi matematis pada 

pembelajaran matematika dilihat dari : 

(1) Kemampuan mengekspresikan ide-ide 

matematika melalui lisan, tertulis, dan 

mendemonstrasikannya serta 

menggambarkannya secara visual; (2) 

Kemampuan memahami, 

menginterpretasikan, dan mengevaluasi 

ide-ide Matematika baik secara lisan 

maupun dalam bentuk visual lainnya; (3) 

Kemampuan dalam menggunakan istilah-

istilah, notasi-notasi Matematika dan 

struktur-strukturnya untuk menyajikan 

ide, menggambarkan hubungan-

hubungan dan model-model situasi.

8. Persamaan linier satu variabel adalah 

kalimat terbuka yang dihubungkan oleh 

tanda sama dengan (=) dan hanya 

mempunyai satu variabel berpangkat 

satu. Bentuk umum persamaan linier satu 

variabel adalah ax + b = 0 dengan a ≠ 

0.Pertidaksamaan linier satu variabel 

adalah kalimat terbuka yang yang 

dihubungkan oleh tanda ketidaksamaan 

(, ≤ , atau ≥ ) dan hanya mempunyai 

satu variabel dan berpangkat satu. Defenisi Pendekatan Saintifik

Adapun defenisi pendekatan saintifikdari para 

ahli yaitu :

Menurut Lazim (2013:1) “pendekatan 

saintifik adalah konsep dasar yang 

mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan 

melatari pemikiran tentang bagaimana 

metode pembelajaran diterapkan berdasarkan 

teori tertentu.

Menurut Hosnan (2014:34) “pendekatan 

saintifikdimaksudkan untuk memberikan 

pemahaman kepada peserta didik dalam 

mengenal, memahami berbagai materi, 

menggunakan pendekatan ilmiah tidak 

bergantung pada informasi searah dari guru. 

Langkah-langkah pembelajaran yang 

mengacu pada pendekatan saintifik harus 

menyentuh tiga ranah, yaitu sikap, 

pengetahuan, dan keterampilan.

Penulis menyikapi defenisi tersebut bahwa 

hasil akhirnya adalah peningkatan dan 

keseimbangan antara kemampuan untuk 

menjadi manusia yang baik (soft skills) 

dengan manusia yang memiliki kecakapan 

dan pengetahuan untuk hidup secara layak 

(hard skills) dari peserta didik yang meliputi 

aspek kompetensi sikap, pengetahuan, dan 

keterampilan. Pada intinya, hasil belajar 

melahirkan peserta didik yang produktif, 

kreatif, inovatif, dan afektif melalui 

penguatan sikap, keterampilan, dan 

pengetahuan yang terintegrasi. penulis 

mengkaji langkah-langkah pendekatan 

saintifik sebagai berikut:

1. Mengamati. 

Pada langkah ini, kegiatan siswa dapat berupa 

membaca buku, mendengar cerita, baik cerita 

dalam bentuk sumber langsung maupun 

mendengar dongeng dan menyimak atau 

melihat fenomena atau situasi tanpa atau 

dengan alat. Sedangkan kompetensi yang 

dapat dikembangkan oleh guru dalam 

pembelajaran adalah dengan cara guru 

melatih kesungguhan siswa, ketelitian siswa 

dan mambantu siswa dalam mencari 

informasi yang dibutuhkan.

2. Menanya. 

Pada langkah ini, kegiatan siswa adalah 

banyak melakukan pertanyaan-pertanyaan 

yang tentunya mengenai informasi yang 

belum dipahami dari apa yang sudah diamati 

siswa. selain itu, pertanyaan itu dapat 

disampaikan berupa informasi tambahan 

tentang apa yang diamatinya. dari pertanyaan 

yang sifatnya faktual hingga yang bersifat 

hipotetik atau dugaan atau jawaban 

sementara. Kompetensi yang dapat 

dikembangkan adalah guru mendorong dalam 

mengembangkan kreativitas siswa, memiliki 

rasa keinginan tahuan, kemampuan dalam 

merumuskan pertanyaan untuk membentuk 

pikiran kritis demi keperluan hidup siswa 

cerdas dan belajar sepanjang hayat.

3. Mengumpulkan informasi/eksperimen. 

Pada langkah ini, guru membimbing siswa 

dalam melakukan eksperimen, membantu 

siswa dalam mencari dan mengolah sumber 

belajar yang lain yang relevan baik dari buku 

teks maupun Buku Sekolah Elektronik (BSE), 

mengajak siswa mengamati objek, kejadian, 

peristiwa, fenomena yang terjadi pada mata 

pelajaran yang dipelajari saat itu. Kompetensi 

yang dikembangkan guru dalam hal ini 

adalah mengembangkan sikap ketelitian pada 

siswa, mengajarkan berperilaku jujur, 

mengajarkan untuk menghargai pendapat 

orang lain, mengolah dan menyusun 

kemampuan dalam berkomunikasi, 

menerapkan kemampuan dalam 

mengumpulkan informasi melalui berbagai 

cara yang dapat dipelajari siswa, 

membimbing siswa dalam mengembangkan 

kebiasaan belajar dan belajar sepanjang 

hayat.

4. Mengasosiasikan/mengolah informasi. 

Pada langkah ini, guru mengarahkan siswa 

untuk dapat mengolah informasi yang sudah diperoleh dari hasil eksperimen siswa atau 

hasil dari kegiatan siswa dalam 

mengumpulkan informasi, mengolah 

informasi yang dihimpun atau bahkan 

menambah informasi yang didapat dengan 

mengolah informasi tersebut dengan 

membandingkan dari hasil pendapat orang 

lain baik bertentangan maupun yang berbeda 

pendapat dengan maksud untuk mencari 

solusi dan kebenaran. Kompetensi yang 

dikembangkan guru dalam hal ini adalah 

mengembangkan sikap jujur kepada siswa, 

ketelitian, disiplin, taat pada aturan, bekerja 

keras, mengarahkan siswa untuk mampu 

menerapkan prosedur dan kemampuan 

berpikir induktif serta penarapan deduktif 

dalam menyimpulkan dugaan 

sementara/hipotesis.

5. Mengkomunikasikan

Pada langkah ini, siswa mengkomunikasikan 

hasil eksperimen dan informasi yang 

diperoleh dengan menyampaikan hasil 

pengamatannya berdasarkan atas kesimpulan 

hasil analisisnya baik secara lisan, tulisan 

maupun media lainnya. Kompetensi yang 

harus dikembangakanguru kepada siswa 

adalah dengan mengembangkan sikap jujur 

pada siswa, teliti, toleransi antar sesama, 

mengajarkan siswa untuk mampu berpikir 

sistematis, mengungkapkan 

gagasan/ide/pendapatnya dengan penjelasan 

yang singkat dan jelas, serta mengembangkan 

kemampuan berbahasa indonesia yang baik 

dan benar.

Pembelajaran berbasis pendekatan 

ilmiah (saintifik) itu lebih efektif hasilnya 

dibandingkan dengan pembelajaran 

tradisional. Hasil penelitian membuktikan 

bahwa pada pembelajaran tradisional, retensi 

informasi dari guru sebesar 10% setelah 15 

menit dan perolehan pemahaman kontekstual 

sebesar 25%. Pada pembelajaran berbasis 

pendekatan saintifik, retensi informasi dari 

guru sebesar lebih dari 90% setelah dua hari 

dan perolehan pemahaman kontekstual 

sebesar 50%-70%. Proses pembelajaran 

dengan berbasis pendekatan saintifik harus 

dipandu dengan kaidah-kaidah pendekatan 

ilmiah. Pendekatan ini bercirikan penonjolan 

dimensi pengamatan, penalaran, penemuan, 

pengabsahan, dan penjelasan tentang suatu 

kebenaran. Dengan demikian, proses 

pembelajaran harus dilaksanakan dengan 

dipandu nilai-nilai, prinsip-prinsip, atau 

kriteria ilmiah (Hosnan, 2014:7)

Kriteria Pendekatan Saintifik

1. Substansi atau materi pembelajaran 

berbasis pada fakta atau fenomena yang 

dapat dijelaskan dengan logika atau 

penalaran tertentu; bukan sebatas kira-

kira, khayalan, legenda, atau dongeng 

semata.

2. Penjelasan guru, respon peserta didik, 

dan interaksi edukatif guru-peserta didik 

terbebas dari prasangka yang serta-merta, 

pemikiran subjektif, atau penalaran yang 

menyimpang dari alur berpikir logis.

3. Mendorong dan menginspirasi peserta 

didik berpikir secara kritis, analitis, dan 

tepat dalam mengidentifikasi, 

memahami, memecahkan masalah, dan 

mengaplikasikan substansi atau materi 

pembelajaran. 

4. Mendorong dan menginspirasi peserta 

didik mampu berpikir hipotetik dalam 

melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan 

satu dengan yang lain dari substansi atau 

materi pembelajaran.

5. Mendorong dan menginspirasi peserta 

didik mampu memahami, menerapkan, 

dan mengembangkan pola berpikir yang 

rasional dan objektif dalam merespon 

substansi atau materi pembelajaran. 6. Berbasis pada konsep, teori, dan fakta 

empiris yang dapat 

dipertanggungjawabkan.

7. Tujuan pembelajaran dirumuskan secara 

sederhana, jelas, dan menarik sistem 

penyajiannya.

Keunggulan Pendekatan Saintifik

1. Siswa harus aktif dan kreatif

Tak seperti kurikulum sebelumya materi di 

kurikulum terbaru ini lebih ke pemecahan 

masalah. Jadi siswa untuk aktif mencari 

informasi agar tidak ketinggalan materi ajar.

2. Penilaian di dapat dari semua aspek.

Pengambilan nilai siswa bukan hanya di dapat 

dari nilai ujianya saja tetapi juga di dapat dari 

nilai kesopanan, religi, praktek, sikap dan lain 

lain.

Model pengembangan 4D

Model pengembangan 4D ini meliputi 

tahap pendefinisian (define), tahap 

perancangan (design), tahap pengembangan 

(development), dan tahap penyebaran 

(disseminate). 

Define: Tujuan dari tahap ini adalah 

menetapkan dan mendefinisikan 

syarat-syarat pembelajaran diawali 

dengan analisis tujuan dari batasan 

materi yang dikembangkan 

perangkatnya. Dalam tahap ini 

meliputi lima langkah pokok, yaitu 

analisis kebutuhan, analisis siswa, 

analisis tugas, analisis konsep, dan 

spesifikasi indikator pembelajaran.

Design:Tujuan dari tahap ini adalah 

menyiapkan rancangan perangkat 

pembelajaran. Tahap ini terdiri dari 

tiga langkah pokok, yaitu 

penyusunan tes, pemilihan media, 

dan pemilihan format perangkat 

pembelajaran. Development: Tujuan tahap ini adalah untuk 

menghasilkan perangkat 

pembelajaran yang sudah direvisi 

berdasarkan masukan dari pakar 

dan hasil uji coba lapangan. Tahap 

ini meliputi validasi perangkat oleh 

ahli, revisi, dan uji coba kepada 

siswa.

Disseminate: Tahap ini merupakan tahap 

penggunaan perangkat yang telah 

dikembangkan pada skala yang lebih luas 

misalnya di kelas lain, di sekolah lain, oleh 

guru yang lain. Tujuan lain adalah untuk 

menguji efektivitas penggunaan perangkat 

pembelajaran.

Kemampuan Komunikasi Matematis

Komunikasi secara umum dapat 

diartikan sebagai suatu cara untuk 

menyampaikan suatu pesan dari pembawa 

pesan ke penerima pesan untuk memberitahu, 

pendapat, atau perilaku baik langsung secara 

lisan, maupun tak langsung melalui media. Di 

dalam berkomunikasi tersebut harus 

dipikirkan bagaimana caranya agar pesan 

yang disampaikan seseorang itu dapat 

dipahami oleh orang lain. Untuk 

mengembangkan kemampuan berkomunikasi, 

orang dapat menyampaikan dengan berbagai 

bahasa termasuk bahasa matematis. Poyla 

(Ruseffendi 1991:177) menyatakan bahwa 

“Untuk mengetahui apakah seorang siswa 

mengerti persoalan siswa dapat menuliskan 

kembali soal itu dengan kata-katanya sendiri, 

menulis soal itu dengan bentuk lain, menulis 

dalam bentuk yang lebih operasional, menulis 

dalam bentuk rumus, menyatakan soal itu 

dalam bentuk gambar”. 


Jurnal Inspirasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar