Kamis, 08 Juli 2021

Magang 1, Kultur Sekolah

 Nama: Bastiah

Nim: 11901121

Makul: Magang 1


Kultur sekolah

Budaya sekolah merupakan himpunan norma-

norma, nilai-nilai dan keyakinan, ritual dan upacara, 

simbol dan cerita yang membentuk persona sekolah. 

Disini tertulis harapan untuk membangun dari 

waktu ke waktu sebagai guru, administrator, orang 

tua, dan siswa bekerja sama, memecahkan masalah, 

menghadapi tantangan dan mengatasi kegagalan. 

Setiap sekolah memiliki seperangkat harapan 

tentang apa yang dapat dibahas pada rapat staf, 

bagaimana teknik mengajar yang baik, dan 

pentingnya pengembangan staf. Budaya sekolah 

juga merupakan cara berpikir tentang sekolah dan 

berurusan dengan budaya dimana mereka bekerja. Budaya sekolah merupakan jaringan tradisi dan 

ritual yang kompleks, yang telah dibangun dari 

waktu ke waktu oleh guru, siswa, orangtua, dan 

administrator yang bekerja sama dalam menangani 

krisis dan prestasi. Pola budaya sangat abadi, 

memiliki dampak yang kuat pada kinerja, dan 

membentuk bagaimana orang berpikir, bertindak, 

dan merasa. 

Dalam perjalanannya, sekolah juga memiliki 

kebiasaan dan upacara-komunal untuk merayakan 

keberhasilan, untuk memberikan kesempatan 

selama transisi kolektif, dan untuk mengakui 

kontribusi masyarakat terhadap sekolah. Budaya 

sekolah juga meliputi simbol dan cerita yang 

mengkomunikasikan nilai-nilai inti, memperkuat 

misi, membangun komitmen, dan rasa kebersamaan. 

Simbol adalah tanda lahiriyah nilai. Cerita 

merupakan representasi sejarah dan makna 

kelompok. Dalam budaya positif, fitur tersebut 

memperkuat proses pembelajaran, komitmen, dan 

motivasi, karena menjamin para anggota konsisten 

dengan visi sekolah.

Menurut Peterson (2002), suatu budaya sekolah 

mempengaruhi cara orang berpikir, merasa, dan 

bertindak. Mampu memahami dan membentuk 

budaya adalah kunci keberhasilan sekolah dalam 

mempromosikan staf dan belajar siswa. Sedangkan 

menurut Willard Waller (Deal & Peterson, 2011), 

sekolah memiliki budaya yang pasti tentang diri 

mereka sendiri. Di sekolah, ada ritual yang kompleks 

dalam hubungan interpersonal, satu set kebiasaan, 

adat istiadat, dan sanksi irasional, kode moral yang 

berlaku di antara mereka. Orangtua, guru, kepala 

sekolah, dan siswa selalu merasakan sesuatu yang 

istimewa, namun seringkali tak terdefinisikan, 

tentang sekolah mereka, tentang sesuatu yang 

sangat kuat namun sulit untuk dijelaskan. Kenyataan 

ini, merupakan aspek sekolah yang sering diabaikan 

dan akibatnya seringkali tidak hadir dalam diskusi-

diskusi tentang upaya perbaikan sekolah.

Lebih 

lanjut dikemukakan bahwa kebudayaan sekolah 

memiliki unsur-unsur penting, mulai dari yang 

abstrak/non-material hingga yang konkrit/material, 

yaitu:

1. Nilai-nilai moral, sistem peraturan, dan iklim 

kehidupan sekolah. 

2. Pribadi-pribadi yang merupakan warga 

sekolah yang terdiri atas siswa, guru, non 

teaching specialist, dan tenaga administrasi.

3. Kurikulum sekolah yang memuat gagasan-

gagasan maupun fakta-fakta yang menjadi 

keseluruhan program pendidikan.

4. Letak, lingkungan, dan prasarana fisik 

sekolah gedung sekolah, mebelair, dan 

perlengkapan lainnya.

Sekolah berperan dalam menyampaikan 

kebudayaan dari generasi ke generasi dan oleh 

karena itu harus selalu memperhatikan kondisi 

masyarakat dan kebudayaan umum. Namun 

demikian, di sekolah itu sendiri timbul pola 

kelakuan tertentu. Kebudayaan sekolah merupakan 

bagian dari kebudayaan masyarakat luas, namun 

mempunyai ciri-ciri yang khas/unik sebagai suatu 

sub-kebudayaan/sub-culture (Nasution, 1999). 

Timbulnya sub-kebudayaan sekolah juga terjadi 

karena sebagian besar dari waktu siswa terpisah 

dari kehidupan orang dewasa. 

Aneka Praktik Pengembangan Kultur Sekolah

Kultur sekolah bukan sekedar kultur di sekolah. 

Kultur sekolah dimiliki oleh tiap-tiap sekolah. 

Masing-masing sekolah dapat mengembangkan 

keunikan dan ciri khas melalui kultur sekolah. Oleh 

karenanya terdapat variasi kultur di sejumlah 

sekolah. Pengembangan kultur di masing-masing 

sekolah dapat disesuaikan dengan aspek-aspek yang 

dianggap penting oleh masing-masing sekolah, 

seperti: visi-misi, kondisi dan potensi sekolah. 

Sejumlah sekolah lebih menekankan kultur sekolah 

yang fokus untuk mendorong pencapaian prestasi 

akademik. Namun sejumlah sekolah yang lain lebih 

fokus pada aspek non-akademik. Hal tersebut sangat 

dimungkinkan, mengingat para siswa yang 

mendapatkan layanan pendidikan memiliki 

kecerdasan majemuk (multiple intelligences) yang 

bervariasi.

Adapun kultur sekolah yang dapat dikembangkan 

antara lain yang kondusif bagi pengembangan:

1. Prestasi Akademik

Di sekolah yang menghargai prestasi akademik, 

terjadi proses penciptaan iklim akademik (academic 

athmosphere) yang bertujuan untuk mencapai 

prestasi akademik. 

Prestasi akademik ini biasanya 

terkait dengan sejumlah mata pelajaran pokok yang 

dipelajari di sekolah. Sebagian besar orang tua siswa 

cenderung menghargai prestasi akademik daripada 

prestasi lainnya. 

2. Non-Akademik

Prestasi non-akademik juga dapat dikembangkan 

melalui kultur sekolah yang menghargai prestasi 

olah-raga, seni, dan ketrampilan lainnya. Nilai-nilai 

kreativitas dan demokrasi juga dapat dikembangkan 

melalui kultur sekolah yang memberi ruang (space) 

yang memadai, sehingga siswa memiliki keleluasaan 

untuk berpartisipasi, berkreasi, berpikir secara 

kritis, berperilaku humanis. Selama ini kebanyakan 

sekolah menganggap penting prestasi akademik 

siswa. Profil kecerdasan majemuk siswa yang 

bervariasi seringkali terabaikan. Padahal dalam 

realitasnya, kesuksesan seseorang tidak hanya 

ditentukan oleh prestasi akademik yang telah 

dimiliki, melainkan juga disebabkan oleh prestasi 

non-akademiknya.

3. Karakter

Karakter berkaitan dengan moral dan berkonotasi 

positif. Pendidikan untuk pembangunan karakter 

pada dasarnya mencakup pengembangan substansi, 

proses dan suasana atau lingkungan yang 

menggugah, mendorong, dan memudahkan 

seseorang mengembangkan kebiasaan yang baik. 

Karakter bersifat inside-out,maksudnya bahwa 

perilaku yang berkembang menjadi kebiasaan baik 

ini terjadi karena adanya dorongan dari dalam, 

bukan karena paksaan dari luar (HB X, 2012). 

Adapun variasi nilai karakter yang dapat 

dikembangkan melalui kultur sekolah antara lain: 

yang kondusif bagi pengembangannilai-nilai 

religius, nilai demokrasi, kedisiplinan, kejujuran, 

ramah anak, anti kekerasan, dan lain-lain.

4. Kelestarian Lingkungan Hidup 

Sejumlah sekolah di berbagai level (SD, SMP, SMA) 

mendapatkan penghargaan dan predikat sebagai 

sekolah adiwiyata, yaitu sekolah menjaga 

kelestarian lingkungan hidup. Penghargaan tersebut 

perlu diapresiasi dalam menstimulasi terwujudnya 

sekolah berwawasan lingkungan. Namun demikian, 

predikat sekolah adiwiyata tidak muncul dengan 

sendirinya tanpa diupayakan melalui 

pengembangan kultur sekolah ramah lingkungan. 

Sejumlah sekolah yang fokus dalam pengembangan 

sekolah hijau (green school) memiliki visi-misi yang 

berorientasi pada kehidupan dan kondisi 

lingkungan masa depan yang lebih baik dan 

berkelanjutan (sustainability). Untuk 

mewujudkannya, memerlukan komitmen bersama 

seluruh warga sekolah dalam pengembangan kultur 

sekolah yang ramah lingkungan.

Demikian tadi sejumlah contoh kultur sekolah yang 

dapat dikembangkan oleh tiap-tiap sekolah. Masih 

terbuka bagi sejumlah alternatif lain sesuai 

karakteristik dan kreativitas masing-masing 

sekolah. Program sekolah dalam menyelenggarakan 

pendidikan dan mengembangkan kultur sekolah 

dapat bervariasi karena tidakada model tunggal. 

Setiap sekolah memiliki tujuan umum pendidikan 

yang relatifsama (universal), namun sebagai sub-

kultur, setiap sekolah dapat mengembangkan kultur 

sekolah yang khas (relatif) sesuai dengan potensi 

yang dimiliki oleh institusi sekolah. Sub-kultur 

tersebut biasanya identik dengan kultur di 

masyarakat yang lebih luas. Dengan adanya variasi 

tersebut, setiap sekolah memiliki peluang untuk 

menjadi sekolah unggul, dengan keunggulan 

masing-masing yang khas. Setiap sekolah bahkan 

dapat saling mengisi secara kolaboratif, bukannya 

bersaing secara kompetitif. Semua kembali kepada 

bagaimana dan kemana pimpinan sekolah akan 

membawa dan mengarahkan sekolahnya.

Peran Kultur terhadap Peningkatan 

Kinerja Sekolah 

 Kinerja sekolah (Depdiknas, 2001: 152) 

adalah prestasi yang dihasilkan dari proses atau 

perilaku sekolah, yang dapat dilihat dari 

produktivitas, efisiensi, inovasi, kualitas 

kehidupan kerja dan moral kerjanya. Kinerja 

sekolah meliputi juga kinerja siswa yaitu hasil 

belajar dan atau perilaku belajar, dalam hal ini 

disiplin, motivasi, daya saing dan daya kerja 

sama, kemampuan untuk berprakarsa dan 

memperhitungkan resiko serta sikap pencapaian 

prestasi dalam persaingan. Khusus berkenaan 

dengan output sekolah dijelaskan bahwa output 

sekolah dapat dikatakan berkualitas tinggi jika 

prestasi sekolah khususnya prestasi anak didik 

menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam hal: 

(1) hasil tes kemampuan akademik, berupa nilai 

ulangan umum, UAS, UAN; (2) prestasi di 

bidang nonakademik, seperti olah raga, seni, 

keterampilan. 

 Suyanto & Abbas (2001: 114) 

mengemukakan, sekolah adalah lembaga 

pendidikan yang selama ini kerap menjadi 

sasaran pertanyaan masyarakat berkaitan dengan 

kinerja dan produk kerjanya yang cenderung di 

bawah standar mutu yang diharapkan. Hampir 

semua kasus yang menimpa generasi muda, 

dijadikan hujatan kepada sekolah. Seakan-akan 

sekolahlah pusat dari segala malapetaka itu. 

Terlepas dari benar atau salah, satu hal yang 

pasti, sekolah harus beradaptasi dengan 

perubahan. Harus ditumbuhkan perubahan yang 

dapat menciptakan keberhasilan upaya-upaya 

meningkatkan mutu pengelolaan dan mutu hasil pembelajarannya. Strategi melaksanakan 

perubahan berikutnya menjadi sangat penting 

bagi sekolah, karena sekolah merupakan sebuah 

lembaga otonom. Maju mundurnya pendidikan 

yang dilaksanakan oleh sekolah, tidak lagi 

dominan ditentukan oleh institusi yang 

membawahi sekolah, tetapi oleh sejumlah 

komponen yang ada di dalam sistem 

persekolahan. 

 Zamroni (2000: 147) mengemukakan bahwa 

sekolah sebagai suatu sistem memiliki tiga aspek 

pokok yang sangat berkaitan dengan mutu 

sekolah, yakni proses belajar mengajar, 

kepemimpinan dan manajemen sekolah, serta 

kultur sekolah. Program aksi untuk peningkatan 

kualitas tidak dapat tidak harus meliputi ketiga 

aspek pokok tersebut. Selama ini secara 

konvensional upaya peningkatan mutu pedidikan 

belum dilakukan dengan sistematis (mencakup 

ketiga aspek tersebut). Sasaran dari upaya yang 

selama ini dilakukan dengan menyediakan dana 

bagi pelaksanaan pelatihan, penyediaan buku 

teks dan pengadaan fasilitas lainnya hanya 

menyentuh aspek proses belajar mengajar dan 

kepemimpinan/manajemen sekolah. Berdasarkan 

penelitian-penelitian yang telah dilakukan 

ternyata hal ini tidaklah menghasilkan 

sebagaimana yang diinginkan. Agar mutu 

meningkat, selain dilakukan secara konvensional 

sebagaimana selama ini telah dilakukan perlu 

diiringi pula dengan pendekatan inkonvensional, 

yakni melalui pengembangan kutur sekolah. 

Kecuali itu sekolah juga perlu mewaspadai kultur 

yang bersifat racun (toxic) yaitu yang besifat 

menganggu dan menyimpang dari norma-norma, 

nilai-nilai, dan keyakinan yang mendasari 

beroperasinya sekolah. sekolah seyogyanya menjadi komitmen luas di 

sekolah, menjadi jati diri dan kepribadian 

sekolah, bahkan didukung oleh stakeholder-nya. 

Dengan kultur sekolah yang demikian, suasana 

kekeluargaan, kolaborasi, semangat terus maju, 

dorongan bekarja keras dan belajar-mengajar 

dapat diciptakan. 

 Sejalan dengan berbagai pengertian 

budaya atau kultur yang dikemukakan dalam 

uraian sebelumnya maka dapat dipahami bahwa 

konsep kultur sebagai suatu pendekatan dalam 

upaya memperbaiki kondisi organisasi sekolah 

lebih menekankan kepada penghayatan segi-segi 

simbolik, tradisi, riwayat sekolah yang 

kesemuanya akan membentuk keyakinan, 

kepercayaaan diri dan kebanggaan akan 

sekolahnya. Pendekatan kultur berbeda dengan 

pendekatan struktur. Pendekatan yang terakhir 

ini cenderung tampak ingin menciptakan hal-hal 

besar dengan mengubah struktur untuk 

mengubah perilaku, sementara perilaku 

seseorang pada kenyataanya terlalu kuat untuk 

direstrukturisasi atau direformasi dari luar. Sebaliknya pendekatan kultur justru 

mengusahakan agar muncul orang-orang besar, 

berjiwa besar atau dalam arti membangun 

manusia yang meliputi sifat, karakter, visi, dan 

daya tahan melalui internalisasi norma, sikap, 

kebiasaan serta nilai-nilai yang bersifat positif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar