Nama: Bastiah
Nim: 11901121
Makul: Magang 1
Kultur sekolah
Budaya sekolah merupakan himpunan norma-
norma, nilai-nilai dan keyakinan, ritual dan upacara,
simbol dan cerita yang membentuk persona sekolah.
Disini tertulis harapan untuk membangun dari
waktu ke waktu sebagai guru, administrator, orang
tua, dan siswa bekerja sama, memecahkan masalah,
menghadapi tantangan dan mengatasi kegagalan.
Setiap sekolah memiliki seperangkat harapan
tentang apa yang dapat dibahas pada rapat staf,
bagaimana teknik mengajar yang baik, dan
pentingnya pengembangan staf. Budaya sekolah
juga merupakan cara berpikir tentang sekolah dan
berurusan dengan budaya dimana mereka bekerja. Budaya sekolah merupakan jaringan tradisi dan
ritual yang kompleks, yang telah dibangun dari
waktu ke waktu oleh guru, siswa, orangtua, dan
administrator yang bekerja sama dalam menangani
krisis dan prestasi. Pola budaya sangat abadi,
memiliki dampak yang kuat pada kinerja, dan
membentuk bagaimana orang berpikir, bertindak,
dan merasa.
Dalam perjalanannya, sekolah juga memiliki
kebiasaan dan upacara-komunal untuk merayakan
keberhasilan, untuk memberikan kesempatan
selama transisi kolektif, dan untuk mengakui
kontribusi masyarakat terhadap sekolah. Budaya
sekolah juga meliputi simbol dan cerita yang
mengkomunikasikan nilai-nilai inti, memperkuat
misi, membangun komitmen, dan rasa kebersamaan.
Simbol adalah tanda lahiriyah nilai. Cerita
merupakan representasi sejarah dan makna
kelompok. Dalam budaya positif, fitur tersebut
memperkuat proses pembelajaran, komitmen, dan
motivasi, karena menjamin para anggota konsisten
dengan visi sekolah.
Menurut Peterson (2002), suatu budaya sekolah
mempengaruhi cara orang berpikir, merasa, dan
bertindak. Mampu memahami dan membentuk
budaya adalah kunci keberhasilan sekolah dalam
mempromosikan staf dan belajar siswa. Sedangkan
menurut Willard Waller (Deal & Peterson, 2011),
sekolah memiliki budaya yang pasti tentang diri
mereka sendiri. Di sekolah, ada ritual yang kompleks
dalam hubungan interpersonal, satu set kebiasaan,
adat istiadat, dan sanksi irasional, kode moral yang
berlaku di antara mereka. Orangtua, guru, kepala
sekolah, dan siswa selalu merasakan sesuatu yang
istimewa, namun seringkali tak terdefinisikan,
tentang sekolah mereka, tentang sesuatu yang
sangat kuat namun sulit untuk dijelaskan. Kenyataan
ini, merupakan aspek sekolah yang sering diabaikan
dan akibatnya seringkali tidak hadir dalam diskusi-
diskusi tentang upaya perbaikan sekolah.
Lebih
lanjut dikemukakan bahwa kebudayaan sekolah
memiliki unsur-unsur penting, mulai dari yang
abstrak/non-material hingga yang konkrit/material,
yaitu:
1. Nilai-nilai moral, sistem peraturan, dan iklim
kehidupan sekolah.
2. Pribadi-pribadi yang merupakan warga
sekolah yang terdiri atas siswa, guru, non
teaching specialist, dan tenaga administrasi.
3. Kurikulum sekolah yang memuat gagasan-
gagasan maupun fakta-fakta yang menjadi
keseluruhan program pendidikan.
4. Letak, lingkungan, dan prasarana fisik
sekolah gedung sekolah, mebelair, dan
perlengkapan lainnya.
Sekolah berperan dalam menyampaikan
kebudayaan dari generasi ke generasi dan oleh
karena itu harus selalu memperhatikan kondisi
masyarakat dan kebudayaan umum. Namun
demikian, di sekolah itu sendiri timbul pola
kelakuan tertentu. Kebudayaan sekolah merupakan
bagian dari kebudayaan masyarakat luas, namun
mempunyai ciri-ciri yang khas/unik sebagai suatu
sub-kebudayaan/sub-culture (Nasution, 1999).
Timbulnya sub-kebudayaan sekolah juga terjadi
karena sebagian besar dari waktu siswa terpisah
dari kehidupan orang dewasa.
Aneka Praktik Pengembangan Kultur Sekolah
Kultur sekolah bukan sekedar kultur di sekolah.
Kultur sekolah dimiliki oleh tiap-tiap sekolah.
Masing-masing sekolah dapat mengembangkan
keunikan dan ciri khas melalui kultur sekolah. Oleh
karenanya terdapat variasi kultur di sejumlah
sekolah. Pengembangan kultur di masing-masing
sekolah dapat disesuaikan dengan aspek-aspek yang
dianggap penting oleh masing-masing sekolah,
seperti: visi-misi, kondisi dan potensi sekolah.
Sejumlah sekolah lebih menekankan kultur sekolah
yang fokus untuk mendorong pencapaian prestasi
akademik. Namun sejumlah sekolah yang lain lebih
fokus pada aspek non-akademik. Hal tersebut sangat
dimungkinkan, mengingat para siswa yang
mendapatkan layanan pendidikan memiliki
kecerdasan majemuk (multiple intelligences) yang
bervariasi.
Adapun kultur sekolah yang dapat dikembangkan
antara lain yang kondusif bagi pengembangan:
1. Prestasi Akademik
Di sekolah yang menghargai prestasi akademik,
terjadi proses penciptaan iklim akademik (academic
athmosphere) yang bertujuan untuk mencapai
prestasi akademik.
Prestasi akademik ini biasanya
terkait dengan sejumlah mata pelajaran pokok yang
dipelajari di sekolah. Sebagian besar orang tua siswa
cenderung menghargai prestasi akademik daripada
prestasi lainnya.
2. Non-Akademik
Prestasi non-akademik juga dapat dikembangkan
melalui kultur sekolah yang menghargai prestasi
olah-raga, seni, dan ketrampilan lainnya. Nilai-nilai
kreativitas dan demokrasi juga dapat dikembangkan
melalui kultur sekolah yang memberi ruang (space)
yang memadai, sehingga siswa memiliki keleluasaan
untuk berpartisipasi, berkreasi, berpikir secara
kritis, berperilaku humanis. Selama ini kebanyakan
sekolah menganggap penting prestasi akademik
siswa. Profil kecerdasan majemuk siswa yang
bervariasi seringkali terabaikan. Padahal dalam
realitasnya, kesuksesan seseorang tidak hanya
ditentukan oleh prestasi akademik yang telah
dimiliki, melainkan juga disebabkan oleh prestasi
non-akademiknya.
3. Karakter
Karakter berkaitan dengan moral dan berkonotasi
positif. Pendidikan untuk pembangunan karakter
pada dasarnya mencakup pengembangan substansi,
proses dan suasana atau lingkungan yang
menggugah, mendorong, dan memudahkan
seseorang mengembangkan kebiasaan yang baik.
Karakter bersifat inside-out,maksudnya bahwa
perilaku yang berkembang menjadi kebiasaan baik
ini terjadi karena adanya dorongan dari dalam,
bukan karena paksaan dari luar (HB X, 2012).
Adapun variasi nilai karakter yang dapat
dikembangkan melalui kultur sekolah antara lain:
yang kondusif bagi pengembangannilai-nilai
religius, nilai demokrasi, kedisiplinan, kejujuran,
ramah anak, anti kekerasan, dan lain-lain.
4. Kelestarian Lingkungan Hidup
Sejumlah sekolah di berbagai level (SD, SMP, SMA)
mendapatkan penghargaan dan predikat sebagai
sekolah adiwiyata, yaitu sekolah menjaga
kelestarian lingkungan hidup. Penghargaan tersebut
perlu diapresiasi dalam menstimulasi terwujudnya
sekolah berwawasan lingkungan. Namun demikian,
predikat sekolah adiwiyata tidak muncul dengan
sendirinya tanpa diupayakan melalui
pengembangan kultur sekolah ramah lingkungan.
Sejumlah sekolah yang fokus dalam pengembangan
sekolah hijau (green school) memiliki visi-misi yang
berorientasi pada kehidupan dan kondisi
lingkungan masa depan yang lebih baik dan
berkelanjutan (sustainability). Untuk
mewujudkannya, memerlukan komitmen bersama
seluruh warga sekolah dalam pengembangan kultur
sekolah yang ramah lingkungan.
Demikian tadi sejumlah contoh kultur sekolah yang
dapat dikembangkan oleh tiap-tiap sekolah. Masih
terbuka bagi sejumlah alternatif lain sesuai
karakteristik dan kreativitas masing-masing
sekolah. Program sekolah dalam menyelenggarakan
pendidikan dan mengembangkan kultur sekolah
dapat bervariasi karena tidakada model tunggal.
Setiap sekolah memiliki tujuan umum pendidikan
yang relatifsama (universal), namun sebagai sub-
kultur, setiap sekolah dapat mengembangkan kultur
sekolah yang khas (relatif) sesuai dengan potensi
yang dimiliki oleh institusi sekolah. Sub-kultur
tersebut biasanya identik dengan kultur di
masyarakat yang lebih luas. Dengan adanya variasi
tersebut, setiap sekolah memiliki peluang untuk
menjadi sekolah unggul, dengan keunggulan
masing-masing yang khas. Setiap sekolah bahkan
dapat saling mengisi secara kolaboratif, bukannya
bersaing secara kompetitif. Semua kembali kepada
bagaimana dan kemana pimpinan sekolah akan
membawa dan mengarahkan sekolahnya.
Peran Kultur terhadap Peningkatan
Kinerja Sekolah
Kinerja sekolah (Depdiknas, 2001: 152)
adalah prestasi yang dihasilkan dari proses atau
perilaku sekolah, yang dapat dilihat dari
produktivitas, efisiensi, inovasi, kualitas
kehidupan kerja dan moral kerjanya. Kinerja
sekolah meliputi juga kinerja siswa yaitu hasil
belajar dan atau perilaku belajar, dalam hal ini
disiplin, motivasi, daya saing dan daya kerja
sama, kemampuan untuk berprakarsa dan
memperhitungkan resiko serta sikap pencapaian
prestasi dalam persaingan. Khusus berkenaan
dengan output sekolah dijelaskan bahwa output
sekolah dapat dikatakan berkualitas tinggi jika
prestasi sekolah khususnya prestasi anak didik
menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam hal:
(1) hasil tes kemampuan akademik, berupa nilai
ulangan umum, UAS, UAN; (2) prestasi di
bidang nonakademik, seperti olah raga, seni,
keterampilan.
Suyanto & Abbas (2001: 114)
mengemukakan, sekolah adalah lembaga
pendidikan yang selama ini kerap menjadi
sasaran pertanyaan masyarakat berkaitan dengan
kinerja dan produk kerjanya yang cenderung di
bawah standar mutu yang diharapkan. Hampir
semua kasus yang menimpa generasi muda,
dijadikan hujatan kepada sekolah. Seakan-akan
sekolahlah pusat dari segala malapetaka itu.
Terlepas dari benar atau salah, satu hal yang
pasti, sekolah harus beradaptasi dengan
perubahan. Harus ditumbuhkan perubahan yang
dapat menciptakan keberhasilan upaya-upaya
meningkatkan mutu pengelolaan dan mutu hasil pembelajarannya. Strategi melaksanakan
perubahan berikutnya menjadi sangat penting
bagi sekolah, karena sekolah merupakan sebuah
lembaga otonom. Maju mundurnya pendidikan
yang dilaksanakan oleh sekolah, tidak lagi
dominan ditentukan oleh institusi yang
membawahi sekolah, tetapi oleh sejumlah
komponen yang ada di dalam sistem
persekolahan.
Zamroni (2000: 147) mengemukakan bahwa
sekolah sebagai suatu sistem memiliki tiga aspek
pokok yang sangat berkaitan dengan mutu
sekolah, yakni proses belajar mengajar,
kepemimpinan dan manajemen sekolah, serta
kultur sekolah. Program aksi untuk peningkatan
kualitas tidak dapat tidak harus meliputi ketiga
aspek pokok tersebut. Selama ini secara
konvensional upaya peningkatan mutu pedidikan
belum dilakukan dengan sistematis (mencakup
ketiga aspek tersebut). Sasaran dari upaya yang
selama ini dilakukan dengan menyediakan dana
bagi pelaksanaan pelatihan, penyediaan buku
teks dan pengadaan fasilitas lainnya hanya
menyentuh aspek proses belajar mengajar dan
kepemimpinan/manajemen sekolah. Berdasarkan
penelitian-penelitian yang telah dilakukan
ternyata hal ini tidaklah menghasilkan
sebagaimana yang diinginkan. Agar mutu
meningkat, selain dilakukan secara konvensional
sebagaimana selama ini telah dilakukan perlu
diiringi pula dengan pendekatan inkonvensional,
yakni melalui pengembangan kutur sekolah.
Kecuali itu sekolah juga perlu mewaspadai kultur
yang bersifat racun (toxic) yaitu yang besifat
menganggu dan menyimpang dari norma-norma,
nilai-nilai, dan keyakinan yang mendasari
beroperasinya sekolah. sekolah seyogyanya menjadi komitmen luas di
sekolah, menjadi jati diri dan kepribadian
sekolah, bahkan didukung oleh stakeholder-nya.
Dengan kultur sekolah yang demikian, suasana
kekeluargaan, kolaborasi, semangat terus maju,
dorongan bekarja keras dan belajar-mengajar
dapat diciptakan.
Sejalan dengan berbagai pengertian
budaya atau kultur yang dikemukakan dalam
uraian sebelumnya maka dapat dipahami bahwa
konsep kultur sebagai suatu pendekatan dalam
upaya memperbaiki kondisi organisasi sekolah
lebih menekankan kepada penghayatan segi-segi
simbolik, tradisi, riwayat sekolah yang
kesemuanya akan membentuk keyakinan,
kepercayaaan diri dan kebanggaan akan
sekolahnya. Pendekatan kultur berbeda dengan
pendekatan struktur. Pendekatan yang terakhir
ini cenderung tampak ingin menciptakan hal-hal
besar dengan mengubah struktur untuk
mengubah perilaku, sementara perilaku
seseorang pada kenyataanya terlalu kuat untuk
direstrukturisasi atau direformasi dari luar. Sebaliknya pendekatan kultur justru
mengusahakan agar muncul orang-orang besar,
berjiwa besar atau dalam arti membangun
manusia yang meliputi sifat, karakter, visi, dan
daya tahan melalui internalisasi norma, sikap,
kebiasaan serta nilai-nilai yang bersifat positif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar