Senin, 12 Juli 2021

Magang 1, Strategi Pembelajaran

 Nama: Bastiah

Nim: 11901121

Kelas: PAI 4D

Makul: Magang 1


Strategi Pembelajaran

Strategi adalah suatu seni merancang 

operasi di dalam peperangan seperti 

cara-cara mengatur posisi atau siasat 

dalam berperang, seperti dalam angkatan 

darat atau angkatan laut. Secara umum, 

strategi merupakan suatu teknik yang 

digunakan untuk mencapai suatu tujuan. 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia 

edisi kedua (1989), strategi adalah ilmu dan 

seni menggunakan semua sumber daya 

bangsa-bangsa untuk melaksanakan 

kebijaksanaan tertentu dalam perang dan 

damai. Menurut O’Malley dan Chamot 

(1990), strategi adlah seperangkat alat yang 

melibatkan individu secara langsung untuk 

mengembangkan bahasa kedua atau bahasa 

asing. Strategi sering dihubungkan dengan prestasi bahasa dan kecakapan dalam 

menggunakan bahasa.

Untuk memahami makna strategi 

secara lebih dalam, biasanya dikaitkan 

dengan istilah pendekatan dan metode. 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia 

(1995) Pendekatan adalah proses, 

perbuatan, atau cara mendekati. Pendekatan 

merupakan sikap atau pandangan tentang 

sesuatu, yang biasanya berupa asumsi. 

Metode adalah rencana keseluruhan bagi 

penyajian bahan bahasa secara rapi dan 

tertib. Sifat sebuah metode adalah 

prosedural.

Strategi belajar dapat digambarkan 

sebagai sifat dan tingkah laku. Oxford 

mendefinisikan strategi belajar sebagai 

tingkah laku yang dipakai oleh pembelajar 

agar pembelajaran bahasa berhasil, terarah, 

dan menyenangkan. Strategi belajar 

mengacu pada perilaku dan proses berfikir 

yang digunakan serta mempengaruhi apa 

yang dipelajari. Strategi pembelajaran 

bahasa adalah tindakan melaksanakan 

rencana dengan menggunakan beberapa 

variabel seperti tujuan, bahan, metode, dan 

alat, serta evaluasi agar mencapai tujuan 

yang telah ditetapkan.

Strategi belajar menurut Huda (1999), 

antara lain:

1. Strategi Utama dan Strategi Pendukung. 

Strategi utama dipakai secara langsung 

dalam mencerna materi pembelajaran. 

Strategi pendukung dipakai untuk 

mengembangkan sikap belajar dan 

membantu pembelajar dalam mengatasi 

masalah seperti gangguan, kelelahan, 

frustasi, dan lain sebagainya.

2. Strategi Kognitif dan Strategi 

Metakognitif.

Strategi kognitif dipakai untuk 

mengelola materi pembelajaran agar dapat diingat untuk jangka waktu yang 

lama. Strategi metakognitif adalah 

langkah yang dipakai untuk 

mempertimbangkan proses kognitif, 

seperti monitoring diri sendiri, dan 

penguatan diri sendiri.

3. Strategi Sintaksis dan Strategi Semantik.

Strategi sintaksis adalah kata fungsi, 

awalan, akhiran, dan penggolongan kata. 

Strategi semantik adalah berhubungan 

dengan objek nyata, situasi, dan 

kejadian.

Strategi pembelajaran berdasarkan 

klasifikasinya, sebagai berikut:

1. Penekanan Komponen dalam Program 

Pengajaran

Komponen program pengajaran anatara lain 

yang berpusat pada pengajar, peserta didik, 

dan materi pengajaran. Berpusat pada 

pengajar, pengajar menyampaikan 

informasi kepada peserta didik. Teknik 

penyajian adalah teknik ceramah, teknik 

team teaching, teknik sumbang saran, 

teknik demonstrasi, dan teknik antar 

disiplin. Berpusat pada peserta didik, 

strategi pembelajaran seperti ini 

memberikan kesempatan seluas-luasnya 

kepada peserta didik untuk aktif dan 

berperan dalam kegiatan pembelajaran. 

Dalam hal ini, pengajar berperan sebagai 

fasilitator dan motivator. Teknik penyajian 

adalah teknik diskusi, teknik kerja 

kelompok, teknik penemuan, teknik 

eksperimen, teknik kerja lapangan, dan 

teknik penyajian kusus. Berpusat pada 

materi pengajaran, materi terbagi dua yaitu 

materi formal dan materi informal. Materi 

formal adalah isi pelajaran yang terdapat 

dalam buku-buku teks resmi disekolah, 

sedangkan materi informal adalah bahan bahan pelajaran yang bersumber dari 

lingkungan sekolah. Teknik penyajian 

adalah tutorial, teknik modular, teknik 

pengajaran terpadu, dan teknik demonstrasi.

2. Kegiatan Pengolahan Pesan atau Materi 

Dibedakan menjadi dua, yaitu strategi 

pembelajaran ekspositoris merupakan 

strategi berbentuk penguraian, baik berupa 

bahan tertulis maupun penjelasan secara 

verbal. Strategi pembelajaran heuristik 

adalah sebuah strategi yang menyiasati agar 

aspek-aspek dari komponen-komponen 

pembentuk sistem intruksional mengarah 

kepada pengaktifan peserta didik untuk 

mencari dan menemukan fakta, prinsip, 

serta konsep yang mereka butuhkan.

3. Pengelohan Pesan atau Materi

Dibedakan menjadi dua, yaitu strategi 

pembelajaran dedukasi adalah pesan diolah 

mulai dari hal umum menuju kepada hal 

khusus. Misalnya bila pengajaran tentang 

kalimat tunggal, maka dimulai dengan 

definisi kalimat tunggal, contoh-contoh 

kalimat tunggal, dan dilanjutkan penjelasan 

ciri-ciri kalimat tunggal. Sedangkan strategi 

pembelajaran induksi adalah pesan diolah 

mulai dari hal-hal yang khusus menuju 

kepada konsep yang bersifat umum. 

Misalnya bila pengajaran tentang kalimat 

tunggal, maka dimulai dengan memberikan 

contoh-contoh kalimat tunggal, ciri-ciri 

kalimat tunggal sehingga peserta didik 

dapat mendefinisikan sendiri tentang 

kalimat tunggal.

4. Cara Memproses Penemuan

Dibedakan menjadi dua, yaitu strategi 

pembelajaran ekspositoris merupakan 

strategi berbentuk penguraian yang dapat 

berupa bahan tertulis atau penjelasan 

verbal. Strategi penemuan (discovery) adalah proses yang mampu 

mengasimilasikan sebuah konsep atau 

prinsip. Seperti mengamati, mencerna, 

mengerti, menggolongkan, menduga, 

menjelaskan, dan membuat kesimpulan.

Strategi Keterampilan Berbahasa

Bahasa dipergunakan sebagaian besar pada 

aktivitas manusia. Semakin tinggi tingkat 

penguasaan bahasa seseorang, semakin baik 

pula penggunaan bahasa dalam 

berkomunikasi. Penggunaan berbagai 

teknik dan metode yang inovatif dapat 

menciptakan situasi pembelajaran yang 

kondusif. Melalui proses pembelajaran 

yang dinamis, diharapkan akan tercipta 

suatu bentuk komunikasi lisan yang terpola 

melalui keterampilan menyimak, berbicara, 

membaca, dan menulis.

1. Strategi Pembelajaran Keterampilan 

Menyimak

Keterampilan menyimak adalah satu 

bentuk keterampilan berbahasa yang 

bersifat reseptif. Keterampilan 

menyimak pada tahapan lebih tinggi 

mampu menginformasikan kembali 

pemahamannya malalui keterampilan 

berbicara maupun menulis.

Strategi pembelajaran menyimak 

sebagai berikut: 

a. Pemberian informasi tertentu, dalam 

hal ini peserta didik mendengarkan 

sebuah informasi, dan melihat 

demonstrasi serta mencatat.

b. Interaksi, dalam hal ini peserta didik 

diberikan contoh lalu mencontohkan 

dan mengulangi secara lebih kreatif 

beserta tanya jawab.

c. Secara independen, peserta didik 

melakukan kegiatan tertentu seperti, 

menyimak rekaman berupa model, melakukan indentifikasi dan 

klasifikasi dari suatu bentuk 

interaksi/percakapan yang nyata.

Evaluasi kemampuan menyimak yaitu 

tes melalui rekaman, tes dalam bentuk 

tanya jawab, wawancara, menjawab isi 

dialog, menjawab pertanyaan yang 

berkenaan dengan drama yang baru 

ditonton, dan bentuk tes lainnya.

2. Strategi Pembelajaran Keterampilan 

Berbicara

Keterampilan berbicara merupakan 

keterampilan memproduksi arus sistem 

bunyi artikulasi untuk menyampaikan 

kehendak, kebutuhan perasaan, dan 

keinginan kepada orang lain. 

Keterampilan berbicara diawali dengan 

adanya pemahaman minimal dari 

pembicara dalam membentuk sebuah 

kalimat. Sebuah kalimat, betapapun 

kecilnya, memiliki struktur dasar yang 

saling berkaitan satu sama lain sehingga 

mampu menyajikan sebuah makna. 

Strategi pembelajaran berbicara merujuk 

pada prinsip stimulus dan respon. Teknik 

dalam strategi pembelajaran berbicara 

antara lain:

a. Berbicara terpimpin meliputi frase 

dan kalimat, dialog, dan pembacaan 

puisi.

b. Berbicara semi-terpimpin meliputi 

reproduksi cerita, cerita berantai, 

menyusun kalimat dalam sebuah 

pembicaraan, melaporkan isi bacaan 

secara lisan.

c. Berbicara bebas meliputi diskusi, 

drama, wawancara, berpidato, dan bermain peran.

3. Strategi Pembelajaran Keterampilan 

Membaca

Keterampilan membaca memiliki 

peranan penting dalam pengembangan 

pengetahuan dan sebagai alat 

komunikasi bagi kehidupan manusia. 

Fakta di lapangan menunjukan bahwa 

masyarakat di negara maju ditandai oleh 

berkembangnya suatu kebiasaan 

membaca yang tinggi. Membaca 

merupakan suatu kegiatan untuk 

mendapatkan makna dari apa yang 

tertulis dalam teks. Pembelajaran 

membaca harus memperhatikan cara 

berfikir teratur dan baik. Membaca 

melibatkan semua proses mental yang 

lebih tinggi seperti ingatan, pemikiran, 

daya khayal, pengaturan, penerapan, dan 

pemecahan masalah.

Strategi pembelajaran membaca 

adalah dengan menggunakan teknik 

pemberian tugas membaca teks selama 

waktu tertentu, kemudian mengajukan 

pertanyaan. Tes kemampuan membaca 

antara lain menggunakan bentuk btul-

salah, melengkapi kalimat, pilihan 

ganda, dan pembuatan ringkasan atau 

rangkuman. Selain itu, strategi lain untuk 

meningkatkan keterampilan membaca 

yakni dengan membaca karya sastra.

4. Strategi Pembelajaran Keterampilan 

Menulis

Keterampilan menulis didasari oleh 

penguasaan berbagai unsur kebahasaan 

maupun unsur diluar bahasa yang akan 

menjadi isi dalam tulisan. Keduanya 

harus terjalin sehingga menghasilkan 

tulisan yang runtun dan padu. 

Keterampilan menulis merupakan suatu usaha untuk mengungkapkan pikiran dan 

perasaan yang dilakukan secara tertulis. 

Isi tulisan yang diungkapkan dapat 

dipilih secara cermat dan disusun secara 

sistematis agar dapat dipahami dengan 

tepat. Tes keterampilan menulis adalah 

dengan membuat karangan, dengan 

kriteria penilaian sebagai berikut:

a. Kualitas dan ruang lingkup isi

b. Organisasi dan penyajian isi

c. Komposisi

d. Kohesi dan Koherensi

e. Gaya dan bentuk bahasa

f. Tata bahasa, ejaan, tanda baca

g. Kerapihan tulisan dan kebersihan

Keterampilan menulis melibatkan 

unsur linguistik dan ekstralinguistik serta 

memberikan kesempatan kepada peserta 

didik untuk menggunakan bahasa secara 

tepat dan memikirkan gagasan yang akan 

dikemukakan.

TEORI YANG MELANDASI STRATEGI PEMBELAJARAN

Crowl, Kaminsky & Podell (1997) mengemukakan tiga pendekatan yang 

mendasari pengembangan strategi pembelajaran. Pertama, Advance 

Organizers dari Ausubel, yang merupakan pernyataan pengantar yang 

membantu siswa mempersiapkan kegiatan belajar baru dan menunjukkan 

hubungan antara apa yang akan dipelajari dengan konsep atau ide yang lebih 

luas. Kedua, Discovery learning dari Bruner, yang menyarankan 

pembelajaran dimulai dari penyajian masalah dari guru untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelidiki dan menentukan pemecahannya. 

Ketiga, peristiwa-peristiwa belajar dari Gagne.

1. Belajar Bermakna dari Ausubel

Ausubel (1977) menyarankan penggunaan interaksi aktif antara guru 

dengan siswa yang disebut belajar verbal yang bermakna (meaningful verbal 

learning) atau disingkat belajar bermakna pembelajaran ini menekankan pada 

ekspositori dengan cara, guru menyajikan materi secara eksplisit dan 

terorganisasi. Dalam pembelajaran ini, siswa menerima serangkaian ide yang 

disajikan guru dengan cara yang efisien.

Model Ausubel ini mengedepankan penalaran deduktif, yang 

mengharuskan siswa pertama-tama mempelajari prinsip-prinsip, kemudian 

belajar mengenal hal-hal khusus dari prinsip-prinsip tersebut. Pendekatan ini 

mengasumsikan bahwa seseorang belajar dengan baik apabila memahami 

konsep-konsep umum, maju secara deduktif dari aturan-aturan atau prinsip-

prinsip sampai pada contoh-contoh.

Pembelajaran bermakna dari Ausubel menitikberatkan interaksi verbal 

yang dinamis antara guru dengan siswa. Guru memulai dengan suatu advance 

organizer (pemandu awal), kemudian ke bagian-bagian pembelajaran, 

selanjutnya mengembangkan serangkaian langkah yang digunakan guru 

untuk mengajar dengan ekspositori.

2. Advance Organizer

Guru menggunakan advance organizer untuk mengaktifkan skemata 

siswa (eksistensi pemahaman siswa), untuk mengetahui apa yang telah 

dikenal siswa, dan untuk membantunya mengenal relevansi pengetahuan 

yang telah dimiliki. Advance organizer memperkenalkan pengetahuan baru 

secara umum yang dapat digunakan siswa sebagai kerangka untuk 

memahami isi informasi baru secara rinci Anda dapat menggunakan advance 

organizer untuk mengajar bidang studi apa pun.

3. Discovery Learning dari Bruner

Teori belajar penemuan (discovery) dari Bruner mengasumsikan bahwa 

belajar paling baik apabila siswa menemukan sendiri informasi dan konsep-

konsep. Dalam belajar penemuan, siswa menggunakan penalaran induktif

untuk mendapatkan prinsip-prinsip, contoh-contoh. Misalnya, guru 

menjelaskan kepada siswa tentang penemuan sinar lampu pijar, kamera, dan CD, serta perbandingan antara invention dengan discovery (misalnya, listrik, 

nuklir, dan gravitasi). Siswa, kemudian menjabarkan sendiri apakah yang 

dimaksud dengan invention dan bagaimana perbedaannya dengan discovery.

Dalam belajar penemuan, siswa “menemukan” konsep dasar atau 

prinsip-prinsip dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang men-

demonstrasikan konsep tersebut. Bruner yakin bahwa siswa “memiliki” 

pengetahuan apabila menemukan sendiri dan bertanggung jawab atas 

kegiatan belajarnya sendiri, yang memotivasinya untuk belajar.

4. Peristiwa-peristiwa Belajar menurut Gagne

Gagne (dalam Gagne & Driscoll, 1988) mengembangkan suatu model 

berdasarkan teori pemrosesan informasi yang memandang pembelajaran dari 

segi 9 urutan peristiwa sebagai berikut.

a. Menarik perhatian siswa.

b. Mengemukakan tujuan pembelajaran.

c. Memunculkan pengetahuan awal.

d. Menyajikan bahan stimulasi.

e. Membimbing belajar.

f. Menerima respons siswa.

g. Memberikan balikan.

h. Menilai unjuk kerja.

i. Meningkatkan retensi dan transfer.


Nama: Bastiah

Nim: 11901121

Kelas: PAI 4D

Makul: Magang 1


Strategi Pembelajaran

Strategi adalah suatu seni merancang 

operasi di dalam peperangan seperti 

cara-cara mengatur posisi atau siasat 

dalam berperang, seperti dalam angkatan 

darat atau angkatan laut. Secara umum, 

strategi merupakan suatu teknik yang 

digunakan untuk mencapai suatu tujuan. 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia 

edisi kedua (1989), strategi adalah ilmu dan 

seni menggunakan semua sumber daya 

bangsa-bangsa untuk melaksanakan 

kebijaksanaan tertentu dalam perang dan 

damai. Menurut O’Malley dan Chamot 

(1990), strategi adlah seperangkat alat yang 

melibatkan individu secara langsung untuk 

mengembangkan bahasa kedua atau bahasa 

asing. Strategi sering dihubungkan dengan prestasi bahasa dan kecakapan dalam 

menggunakan bahasa.

Untuk memahami makna strategi 

secara lebih dalam, biasanya dikaitkan 

dengan istilah pendekatan dan metode. 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia 

(1995) Pendekatan adalah proses, 

perbuatan, atau cara mendekati. Pendekatan 

merupakan sikap atau pandangan tentang 

sesuatu, yang biasanya berupa asumsi. 

Metode adalah rencana keseluruhan bagi 

penyajian bahan bahasa secara rapi dan 

tertib. Sifat sebuah metode adalah 

prosedural.

Strategi belajar dapat digambarkan 

sebagai sifat dan tingkah laku. Oxford 

mendefinisikan strategi belajar sebagai 

tingkah laku yang dipakai oleh pembelajar 

agar pembelajaran bahasa berhasil, terarah, 

dan menyenangkan. Strategi belajar 

mengacu pada perilaku dan proses berfikir 

yang digunakan serta mempengaruhi apa 

yang dipelajari. Strategi pembelajaran 

bahasa adalah tindakan melaksanakan 

rencana dengan menggunakan beberapa 

variabel seperti tujuan, bahan, metode, dan 

alat, serta evaluasi agar mencapai tujuan 

yang telah ditetapkan.

Strategi belajar menurut Huda (1999), 

antara lain:

1. Strategi Utama dan Strategi Pendukung. 

Strategi utama dipakai secara langsung 

dalam mencerna materi pembelajaran. 

Strategi pendukung dipakai untuk 

mengembangkan sikap belajar dan 

membantu pembelajar dalam mengatasi 

masalah seperti gangguan, kelelahan, 

frustasi, dan lain sebagainya.

2. Strategi Kognitif dan Strategi 

Metakognitif.

Strategi kognitif dipakai untuk 

mengelola materi pembelajaran agar dapat diingat untuk jangka waktu yang 

lama. Strategi metakognitif adalah 

langkah yang dipakai untuk 

mempertimbangkan proses kognitif, 

seperti monitoring diri sendiri, dan 

penguatan diri sendiri.

3. Strategi Sintaksis dan Strategi Semantik.

Strategi sintaksis adalah kata fungsi, 

awalan, akhiran, dan penggolongan kata. 

Strategi semantik adalah berhubungan 

dengan objek nyata, situasi, dan 

kejadian.

Strategi pembelajaran berdasarkan 

klasifikasinya, sebagai berikut:

1. Penekanan Komponen dalam Program 

Pengajaran

Komponen program pengajaran anatara lain 

yang berpusat pada pengajar, peserta didik, 

dan materi pengajaran. Berpusat pada 

pengajar, pengajar menyampaikan 

informasi kepada peserta didik. Teknik 

penyajian adalah teknik ceramah, teknik 

team teaching, teknik sumbang saran, 

teknik demonstrasi, dan teknik antar 

disiplin. Berpusat pada peserta didik, 

strategi pembelajaran seperti ini 

memberikan kesempatan seluas-luasnya 

kepada peserta didik untuk aktif dan 

berperan dalam kegiatan pembelajaran. 

Dalam hal ini, pengajar berperan sebagai 

fasilitator dan motivator. Teknik penyajian 

adalah teknik diskusi, teknik kerja 

kelompok, teknik penemuan, teknik 

eksperimen, teknik kerja lapangan, dan 

teknik penyajian kusus. Berpusat pada 

materi pengajaran, materi terbagi dua yaitu 

materi formal dan materi informal. Materi 

formal adalah isi pelajaran yang terdapat 

dalam buku-buku teks resmi disekolah, 

sedangkan materi informal adalah bahan bahan pelajaran yang bersumber dari 

lingkungan sekolah. Teknik penyajian 

adalah tutorial, teknik modular, teknik 

pengajaran terpadu, dan teknik demonstrasi.

2. Kegiatan Pengolahan Pesan atau Materi 

Dibedakan menjadi dua, yaitu strategi 

pembelajaran ekspositoris merupakan 

strategi berbentuk penguraian, baik berupa 

bahan tertulis maupun penjelasan secara 

verbal. Strategi pembelajaran heuristik 

adalah sebuah strategi yang menyiasati agar 

aspek-aspek dari komponen-komponen 

pembentuk sistem intruksional mengarah 

kepada pengaktifan peserta didik untuk 

mencari dan menemukan fakta, prinsip, 

serta konsep yang mereka butuhkan.

3. Pengelohan Pesan atau Materi

Dibedakan menjadi dua, yaitu strategi 

pembelajaran dedukasi adalah pesan diolah 

mulai dari hal umum menuju kepada hal 

khusus. Misalnya bila pengajaran tentang 

kalimat tunggal, maka dimulai dengan 

definisi kalimat tunggal, contoh-contoh 

kalimat tunggal, dan dilanjutkan penjelasan 

ciri-ciri kalimat tunggal. Sedangkan strategi 

pembelajaran induksi adalah pesan diolah 

mulai dari hal-hal yang khusus menuju 

kepada konsep yang bersifat umum. 

Misalnya bila pengajaran tentang kalimat 

tunggal, maka dimulai dengan memberikan 

contoh-contoh kalimat tunggal, ciri-ciri 

kalimat tunggal sehingga peserta didik 

dapat mendefinisikan sendiri tentang 

kalimat tunggal.

4. Cara Memproses Penemuan

Dibedakan menjadi dua, yaitu strategi 

pembelajaran ekspositoris merupakan 

strategi berbentuk penguraian yang dapat 

berupa bahan tertulis atau penjelasan 

verbal. Strategi penemuan (discovery) adalah proses yang mampu 

mengasimilasikan sebuah konsep atau 

prinsip. Seperti mengamati, mencerna, 

mengerti, menggolongkan, menduga, 

menjelaskan, dan membuat kesimpulan.

Strategi Keterampilan Berbahasa

Bahasa dipergunakan sebagaian besar pada 

aktivitas manusia. Semakin tinggi tingkat 

penguasaan bahasa seseorang, semakin baik 

pula penggunaan bahasa dalam 

berkomunikasi. Penggunaan berbagai 

teknik dan metode yang inovatif dapat 

menciptakan situasi pembelajaran yang 

kondusif. Melalui proses pembelajaran 

yang dinamis, diharapkan akan tercipta 

suatu bentuk komunikasi lisan yang terpola 

melalui keterampilan menyimak, berbicara, 

membaca, dan menulis.

1. Strategi Pembelajaran Keterampilan 

Menyimak

Keterampilan menyimak adalah satu 

bentuk keterampilan berbahasa yang 

bersifat reseptif. Keterampilan 

menyimak pada tahapan lebih tinggi 

mampu menginformasikan kembali 

pemahamannya malalui keterampilan 

berbicara maupun menulis.

Strategi pembelajaran menyimak 

sebagai berikut: 

a. Pemberian informasi tertentu, dalam 

hal ini peserta didik mendengarkan 

sebuah informasi, dan melihat 

demonstrasi serta mencatat.

b. Interaksi, dalam hal ini peserta didik 

diberikan contoh lalu mencontohkan 

dan mengulangi secara lebih kreatif 

beserta tanya jawab.

c. Secara independen, peserta didik 

melakukan kegiatan tertentu seperti, 

menyimak rekaman berupa model, melakukan indentifikasi dan 

klasifikasi dari suatu bentuk 

interaksi/percakapan yang nyata.

Evaluasi kemampuan menyimak yaitu 

tes melalui rekaman, tes dalam bentuk 

tanya jawab, wawancara, menjawab isi 

dialog, menjawab pertanyaan yang 

berkenaan dengan drama yang baru 

ditonton, dan bentuk tes lainnya.

2. Strategi Pembelajaran Keterampilan 

Berbicara

Keterampilan berbicara merupakan 

keterampilan memproduksi arus sistem 

bunyi artikulasi untuk menyampaikan 

kehendak, kebutuhan perasaan, dan 

keinginan kepada orang lain. 

Keterampilan berbicara diawali dengan 

adanya pemahaman minimal dari 

pembicara dalam membentuk sebuah 

kalimat. Sebuah kalimat, betapapun 

kecilnya, memiliki struktur dasar yang 

saling berkaitan satu sama lain sehingga 

mampu menyajikan sebuah makna. 

Strategi pembelajaran berbicara merujuk 

pada prinsip stimulus dan respon. Teknik 

dalam strategi pembelajaran berbicara 

antara lain:

a. Berbicara terpimpin meliputi frase 

dan kalimat, dialog, dan pembacaan 

puisi.

b. Berbicara semi-terpimpin meliputi 

reproduksi cerita, cerita berantai, 

menyusun kalimat dalam sebuah 

pembicaraan, melaporkan isi bacaan 

secara lisan.

c. Berbicara bebas meliputi diskusi, 

drama, wawancara, berpidato, dan bermain peran.

3. Strategi Pembelajaran Keterampilan 

Membaca

Keterampilan membaca memiliki 

peranan penting dalam pengembangan 

pengetahuan dan sebagai alat 

komunikasi bagi kehidupan manusia. 

Fakta di lapangan menunjukan bahwa 

masyarakat di negara maju ditandai oleh 

berkembangnya suatu kebiasaan 

membaca yang tinggi. Membaca 

merupakan suatu kegiatan untuk 

mendapatkan makna dari apa yang 

tertulis dalam teks. Pembelajaran 

membaca harus memperhatikan cara 

berfikir teratur dan baik. Membaca 

melibatkan semua proses mental yang 

lebih tinggi seperti ingatan, pemikiran, 

daya khayal, pengaturan, penerapan, dan 

pemecahan masalah.

Strategi pembelajaran membaca 

adalah dengan menggunakan teknik 

pemberian tugas membaca teks selama 

waktu tertentu, kemudian mengajukan 

pertanyaan. Tes kemampuan membaca 

antara lain menggunakan bentuk btul-

salah, melengkapi kalimat, pilihan 

ganda, dan pembuatan ringkasan atau 

rangkuman. Selain itu, strategi lain untuk 

meningkatkan keterampilan membaca 

yakni dengan membaca karya sastra.

4. Strategi Pembelajaran Keterampilan 

Menulis

Keterampilan menulis didasari oleh 

penguasaan berbagai unsur kebahasaan 

maupun unsur diluar bahasa yang akan 

menjadi isi dalam tulisan. Keduanya 

harus terjalin sehingga menghasilkan 

tulisan yang runtun dan padu. 

Keterampilan menulis merupakan suatu usaha untuk mengungkapkan pikiran dan 

perasaan yang dilakukan secara tertulis. 

Isi tulisan yang diungkapkan dapat 

dipilih secara cermat dan disusun secara 

sistematis agar dapat dipahami dengan 

tepat. Tes keterampilan menulis adalah 

dengan membuat karangan, dengan 

kriteria penilaian sebagai berikut:

a. Kualitas dan ruang lingkup isi

b. Organisasi dan penyajian isi

c. Komposisi

d. Kohesi dan Koherensi

e. Gaya dan bentuk bahasa

f. Tata bahasa, ejaan, tanda baca

g. Kerapihan tulisan dan kebersihan

Keterampilan menulis melibatkan 

unsur linguistik dan ekstralinguistik serta 

memberikan kesempatan kepada peserta 

didik untuk menggunakan bahasa secara 

tepat dan memikirkan gagasan yang akan 

dikemukakan.

TEORI YANG MELANDASI STRATEGI PEMBELAJARAN

Crowl, Kaminsky & Podell (1997) mengemukakan tiga pendekatan yang 

mendasari pengembangan strategi pembelajaran. Pertama, Advance 

Organizers dari Ausubel, yang merupakan pernyataan pengantar yang 

membantu siswa mempersiapkan kegiatan belajar baru dan menunjukkan 

hubungan antara apa yang akan dipelajari dengan konsep atau ide yang lebih 

luas. Kedua, Discovery learning dari Bruner, yang menyarankan 

pembelajaran dimulai dari penyajian masalah dari guru untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelidiki dan menentukan pemecahannya. 

Ketiga, peristiwa-peristiwa belajar dari Gagne.

1. Belajar Bermakna dari Ausubel

Ausubel (1977) menyarankan penggunaan interaksi aktif antara guru 

dengan siswa yang disebut belajar verbal yang bermakna (meaningful verbal 

learning) atau disingkat belajar bermakna pembelajaran ini menekankan pada 

ekspositori dengan cara, guru menyajikan materi secara eksplisit dan 

terorganisasi. Dalam pembelajaran ini, siswa menerima serangkaian ide yang 

disajikan guru dengan cara yang efisien.

Model Ausubel ini mengedepankan penalaran deduktif, yang 

mengharuskan siswa pertama-tama mempelajari prinsip-prinsip, kemudian 

belajar mengenal hal-hal khusus dari prinsip-prinsip tersebut. Pendekatan ini 

mengasumsikan bahwa seseorang belajar dengan baik apabila memahami 

konsep-konsep umum, maju secara deduktif dari aturan-aturan atau prinsip-

prinsip sampai pada contoh-contoh.

Pembelajaran bermakna dari Ausubel menitikberatkan interaksi verbal 

yang dinamis antara guru dengan siswa. Guru memulai dengan suatu advance 

organizer (pemandu awal), kemudian ke bagian-bagian pembelajaran, 

selanjutnya mengembangkan serangkaian langkah yang digunakan guru 

untuk mengajar dengan ekspositori.

2. Advance Organizer

Guru menggunakan advance organizer untuk mengaktifkan skemata 

siswa (eksistensi pemahaman siswa), untuk mengetahui apa yang telah 

dikenal siswa, dan untuk membantunya mengenal relevansi pengetahuan 

yang telah dimiliki. Advance organizer memperkenalkan pengetahuan baru 

secara umum yang dapat digunakan siswa sebagai kerangka untuk 

memahami isi informasi baru secara rinci Anda dapat menggunakan advance 

organizer untuk mengajar bidang studi apa pun.

3. Discovery Learning dari Bruner

Teori belajar penemuan (discovery) dari Bruner mengasumsikan bahwa 

belajar paling baik apabila siswa menemukan sendiri informasi dan konsep-

konsep. Dalam belajar penemuan, siswa menggunakan penalaran induktif

untuk mendapatkan prinsip-prinsip, contoh-contoh. Misalnya, guru 

menjelaskan kepada siswa tentang penemuan sinar lampu pijar, kamera, dan CD, serta perbandingan antara invention dengan discovery (misalnya, listrik, 

nuklir, dan gravitasi). Siswa, kemudian menjabarkan sendiri apakah yang 

dimaksud dengan invention dan bagaimana perbedaannya dengan discovery.

Dalam belajar penemuan, siswa “menemukan” konsep dasar atau 

prinsip-prinsip dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang men-

demonstrasikan konsep tersebut. Bruner yakin bahwa siswa “memiliki” 

pengetahuan apabila menemukan sendiri dan bertanggung jawab atas 

kegiatan belajarnya sendiri, yang memotivasinya untuk belajar.

4. Peristiwa-peristiwa Belajar menurut Gagne

Gagne (dalam Gagne & Driscoll, 1988) mengembangkan suatu model 

berdasarkan teori pemrosesan informasi yang memandang pembelajaran dari 

segi 9 urutan peristiwa sebagai berikut.

a. Menarik perhatian siswa.

b. Mengemukakan tujuan pembelajaran.

c. Memunculkan pengetahuan awal.

d. Menyajikan bahan stimulasi.

e. Membimbing belajar.

f. Menerima respons siswa.

g. Memberikan balikan.

h. Menilai unjuk kerja.

i. Meningkatkan retensi dan transfer.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar